Yesus Virtual dan Chatbot Agama Berbasis AI, Apakah Ini Pertanda Kiamat?

Permalink 8 months ago 66

Foto: www.cnbcindonesia.com

Jakarta, Naralapor – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya menjangkau dunia digital dan bisnis, tapi juga mulai menyentuh ranah spiritual dan keagamaan. Fenomena ini terlihat jelas dengan kemunculan aplikasi seperti Text with Jesus, sebuah chatbot yang memungkinkan pengguna berinteraksi dengan sosok Yesus virtual dan para rasul secara interaktif.

Aplikasi ini dikembangkan oleh Catloaf Software dengan CEO Stephane Peter sebagai motor utamanya. Berdasarkan teknologi GPT-5 terbaru milik OpenAI, Text with Jesus dirancang untuk memberikan edukasi dan jawaban atas pertanyaan keagamaan, menghadirkan cara baru berdiskusi tentang agama yang terasa lebih hidup dan personal.

Namun, meski aplikasi ini dengan tegas menyatakan bahwa karakter Yesus virtual adalah hasil kecerdasan buatan, sang "Yesus" seringkali enggan mengakui dirinya sebagai AI ketika ditanya secara langsung oleh pengguna. Hal ini merupakan bagian dari pemodelan yang dirancang agar bot konsisten dengan karakter dan keyakinan yang dibangun.

Peter mengakui bahwa aplikasinya menuai banyak kritik, namun justru meraih rating tinggi, yakni 4,7 dari 5 di App Store. Ia berharap AI dapat menjadi jembatan untuk mengedukasi umat, bukan menggantikan peran manusia dalam beragama.

Kontroversi serupa pernah dialami oleh Catholic Answers saat meluncurkan karakter animasi AI "Father Justin" yang kemudian diubah hanya menjadi "Justin" agar tidak mengganggu umat yang sensitif terhadap penggambaran figur agama.

Beragam agama lain juga mulai memanfaatkan AI dalam bentuk aplikasi seperti 'Deen Buddy' untuk Islam, 'Vedas AI' bagi penganut Hindu, serta 'AI Buddha'. Meski demikian, umumnya mereka menyebut diri sebagai perantara kitab suci, bukan representasi kekudusan sejati.

Seiring makin maraknya penggunaan AI dalam urusan agama, sebagian umat merasa perlu tetap berpegang pada interaksi dengan pemimpin spiritual manusia. Seperti yang diungkapkan Emanuela setelah meninggalkan Katedral St. Patrick di New York

"Orang yang ingin percaya kepada Tuhan mungkin sebaiknya tidak bertanya kepada chatbot. Mereka juga harus berbicara dengan orang yang percaya."

Sementara Rabi Gilah Langner menambah bahwa dalam tradisi Yahudi, setiap hukum agama sering memiliki banyak interpretasi dan kedalaman yang hanya bisa didapat dari interaksi sesama manusia, bukan dari AI yang cenderung kehilangan hubungan emosional.

Tetapi di sisi lain, beberapa suntikan AI dianggap mampu membuka pendekatan baru dalam memperkaya pendidikan dan pendekatan keagamaan. Contohnya, tahun lalu Paus Fransiskus mengangkat Demis Hassabis, pendiri Google DeepMind, ke akademi ilmiah Vatikan, menandakan keseriusan gereja dalam memanfaatkan teknologi baru.

Di Texas, Pendeta Jay Cooper bahkan pernah menggunakan AI untuk menghasilkan khotbah lengkap, meskipun mengaku belum tentu akan mengulanginya. Ia mencatat, pelayanan tersebut berhasil menarik perhatian pengunjung yang biasanya jarang hadir, terutama penggemar video game.

Keberadaan Yesus virtual dan teknologi AI dalam dunia spiritual memang menjadi tanda tanya besar. Apakah ini merupakan kemajuan yang memudahkan umat, atau justru membuat hubungan manusia dengan Tuhan menjadi lebih hambar dan mekanis? Yang pasti, teknologi ini membuka babak baru dalam cara beragama di era digital.