Jakarta, Naralapor – Permintaan listrik di wilayah timur Amerika Serikat melonjak dramatis akibat kombinasi cuaca dingin ekstrem dan pertumbuhan pesat pusat data, yang kini mulai dianggap sebagai "harta karun" baru di era kecerdasan buatan (AI). Lonjakan ini turut memicu kenaikan tarif listrik hingga ribuan dolar per megawatt-jam (MWh), menimbulkan kekhawatiran soal kestabilan pasokan energi menjelang musim dingin.
Tarif listrik di Virginia, kawasan yang menjadi rumah bagi sejumlah data center terbesar dunia, tercatat melonjak tajam hingga mencapai US$ 1.800 per MWh—jauh lebih tinggi dari harga sebelumnya yang sekitar US$ 200 per MWh. Lonjakan harga ini bertepatan dengan serangan Badai Musim Dingin Fern yang melanda beberapa wilayah.
PJM Interconnection, operator jaringan listrik yang melayani sekitar 67 juta jiwa di kawasan Timur dan Mid-Atlantik AS, memperkirakan permintaan listrik musim dingin tahun ini bisa menembus rekor baru 147,2 GW. Angka ini melampaui rekor sebelumnya sebesar 143,7 GW pada Januari 2025, dengan pusat data dan kondisi cuaca dingin yang berkepanjangan menjadi faktor utama peningkatan kebutuhan listrik.
Sayangnya, kapasitas pasokan energi saat ini terbatas akibat gangguan pembangkit listrik yang mencapai hampir 21 GW atau sekitar 16% dari kebutuhan siang hari sebesar 127,4 GW. Faktor utamanya yakni keterbatasan pasokan gas alam yang sering tersendat pada jaringan pipa terutama saat cuaca membeku, serta pensiun dini beberapa pembangkit listrik yang menyulitkan fleksibilitas suplai.
Untuk mengatasi hal ini, PJM memberlakukan program pengurangan beban listrik dengan memberi kompensasi kepada pelanggan yang bersedia mengurangi konsumsi pada masa kritis. Langkah ini penting untuk mencegah gangguan yang lebih luas sembari menjaga kestabilan jaringan menghadapi suhu dingin yang diprediksi masih berlangsung.
Seorang pakar dari PA Consulting menjelaskan bahwa kawasan pesisir timur AS sangat bergantung pada gas alam dari jaringan pipa eksternal yang rawan tersumbat selama cuaca beku. Permintaan gas alam saat ini mencapai rekor mendekati 146,7 miliar kaki kubik per hari, masuk dalam 10 besar tertinggi sepanjang sejarah, menambah tekanan pada pasokan energi.
Meski badai musim dingin saat ini tidak separah badai Uri dan Elliott pada 2021 dan 2022 dari sisi produksi dan harga gas, risiko kekurangan suplai tetap tinggi karena suhu rendah yang berkelanjutan. Selain itu, kemacetan pada jaringan transmisi juga menghambat distribusi listrik murah dari wilayah barat ke timur, memperparah situasi di pusat-pusat konsumsi tinggi seperti Boston, New York, Philadelphia, dan Washington DC.
Dalam beberapa waktu terakhir, harga listrik pada jaringan PJM, New York, dan New England melonjak antara US$ 400 hingga US$ 700 per MWh mengikuti lonjakan permintaan yang melebihi ekspektasi. ISO New England bahkan mencatat puncak permintaan mencapai 20,2 GW, melebihi proyeksi sebelumnya sebesar 19,5 GW. Seiring terkendalanya pasokan gas alam, hampir 40% kebutuhan listrik kawasan ini saat ini dipenuhi oleh pembangkit berbahan bakar minyak, yang pasokannya juga terbatas karena kondisi musim dingin.
Tak hanya di Timur, Texas juga menghadapi tantangan serupa. Operator ERCOT memprediksi puncak permintaan listrik bisa menyentuh 85,1 GW, hampir mendekati kapasitas musiman 100 GW, dengan harga pasar listrik diperkirakan tembus US$ 1.000 per MWh pada Senin pagi.
Di tengah lonjakan permintaan dan pasokan yang terbatas, hampir 1 juta pelanggan di beberapa negara bagian seperti Tennessee, Mississippi, Louisiana, Kentucky, Georgia, Virginia, dan Alabama bahkan mengalami pemadaman listrik selama beberapa hari terakhir.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun pusat data menjadi aset penting di era digital, kebutuhan energi yang sangat besar dari sektor ini berpotensi menimbulkan tekanan serius terhadap sistem kelistrikan terutama saat cuaca ekstrem. Ke depan, diperlukan strategi pengelolaan energi yang lebih handal dan diversifikasi sumber energi untuk menjamin keamanan pasokan dan mencegah lonjakan harga yang merugikan konsumen.
(fab/fab)









