Jakarta - Penipuan online dengan modus pengiriman barang kembali menjadi sorotan setelah aktris Asmara Abigail berbagi pengalamannya menjadi korban penipuan phishing lewat pesan teks. Kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai bentuk penipuan yang memanfaatkan kepercayaan dan ketergesaan korban.
Berdasarkan data Pusat Informasi dan Komunikasi Nasional (Pusiknas) Polri, selama Januari hingga September 2025 tercatat ada 28.028 kasus penipuan baik secara online maupun offline. Modus penipuan yang mengatasnamakan jasa pengiriman barang, seperti paket tertukar atau biaya tambahan, kerap memanfaatkan kecemasan korban. Pelaku menggunakan ancaman maupun iming-iming sehingga korban akhirnya terperangkap dalam tipu muslihat mereka.
Asmara Abigail mengungkapkan saat tengah sibuk menjalani promosi dan syuting film, ia menerima pesan lewat iMessage yang mengatasnamakan jasa pengiriman. Pelaku menyatakan alamat tujuan tidak terbaca jelas dan meminta Asmara mengisi formulir di sebuah tautan. Selain itu, muncul biaya tambahan yang harus dibayar. Karena kondisi fisik dan mental yang kelelahan, Asmara mengikuti instruksi tersebut dan akhirnya kehilangan sekitar Rp 70 juta akibat pengisian data kartu kredit yang dibajak.
"Biasanya aku tidak sembarang klik link dari SMS, WhatsApp, atau email yang tidak jelas, tapi saat itu aku sedang sangat capek. Jadi aku nggak fokus dan akhirnya tertipu," ujar Asmara Abigail.
Asmara juga menambahkan bahwa tampilan website penipuan sangat mirip dengan situs resmi jasa pengiriman. Transaksi yang dikira gagal ternyata berhasil, dan ia baru menyadari bahwa mata uangnya adalah rial Arab Saudi (SAR), bukan rupiah.
Setelah itu, Asmara langsung menghubungi pihak jasa pengiriman dan memastikan bahwa paketnya tidak mengalami kendala sama sekali. Pihak perusahaan juga menunjukkan rekaman CCTV yang memperjelas alur kiriman paketnya sampai ke tujuan, sehingga kasus ini benar-benar berasal dari penipuan pihak ketiga.
Penipuan Lewat Social Engineering
Kasus seperti yang dialami Asmara merupakan contoh praktik social engineering — teknik kejahatan yang mengelabui korban agar memberikan data penting atau melakukan tindakan yang merugikan.
Badan Intelijen dan Keamanan Siber Australia (Australian Signal Directorate) menjelaskan, pelaku berusaha membuat komunikasi mereka terlihat sah agar korban percaya dan mengikuti instruksi berbahaya. Bentuk umum dari social engineering adalah phishing yang banyak terjadi melalui suara, SMS, email, media sosial, mesin pencari, ataupun tautan palsu.
Tips Mudah Cegah Penipuan: Terapkan 3C
Menyikapi maraknya penipuan, J&T Express meluncurkan kampanye edukasi digital untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Asmara Abigail pun diajak membantu menyebarkan pesan edukasi tersebut ke pelanggan jasa pengiriman.
Asmara menyarankan masyarakat untuk selalu melakukan langkah 3C: cek, curiga, dan cancel.
- Cek – Pastikan informasi dan sumber pesan yang diterima asli dan dapat dipercaya sebelum melakukan tindakan.
- Curiga – Waspadai permintaan data pribadi, tautan mencurigakan, atau instruksi yang terasa tidak wajar.
- Cancel – Jika menemukan indikasi penipuan, segera hentikan komunikasi dan laporkan ke pihak resmi layanan pengiriman.
Herline Septia, Brand Manager J&T Express, menyatakan, "Kami percaya peran perusahaan logistik bukan hanya menyediakan layanan, tetapi juga memberikan nilai tambah dalam bentuk edukasi agar pelanggan lebih terlindungi dari kejahatan digital."
Dengan kesadaran dan kehati-hatian, masyarakat dapat meminimalisasi risiko menjadi korban penipuan online. "Kalau kondisi lagi tidak fokus, sebaiknya jangan klik tautan apapun dan selalu cek ulang sebelum merespons pesan mencurigakan," pesan Asmara Abigail.
(prf/ega)









