Teknologi Litografi Jadi Batu Sandungan Besar di Industri Chip China

Permalink 9 months ago 77

Foto: inet.detik.com

Jakarta – Industri semikonduktor di China menghadapi hambatan besar dalam mengejar kemajuan teknologi chip yang saat ini telah dikuasai oleh Amerika Serikat dan Eropa. Khususnya, teknologi litografi yang menjadi tahap kunci dalam produksi chip dianggap sebagai biang keladi keterlambatan tersebut.

Litografi adalah proses memindahkan desain chip ke wafer silikon guna menciptakan sirkuit mikro. Semakin maju teknologi litografi yang digunakan, semakin kecil dan padat pola sirkuit yang bisa dibuat, menghasilkan chip yang lebih cepat dan hemat energi. Namun, mesin litografi tercanggih saat ini hanya diproduksi oleh ASML, perusahaan asal Belanda yang komponennya banyak berasal dari AS. Hal ini membuat pemerintah AS memiliki kendali penuh atas penjualan teknologi litografi ke China.

Akibatnya, perusahaan China seperti Huawei pun mengalami kesulitan. Huawei yang dulu membeli chip dari TSMC di Taiwan kini hanya bisa mengandalkan pemasok domestik, yakni SMIC. Namun, SMIC sendiri tidak bisa mendapatkan mesin litografi Extreme Ultraviolet (EUV) terbaru karena sanksi AS, sehingga mereka hanya dapat memproduksi chip menggunakan mesin Deep Ultraviolet (DUV) yang sudah ketinggalan zaman.

Menurut laporan dari Goldman Sachs, teknologi litografi yang dimiliki China saat ini masih terpaut sekitar 20 tahun dibandingkan dengan teknologi ASML. Bahkan, untuk ASML sendiri proses transisi dari teknologi 65 nanometer ke sub-3 nanometer memakan waktu hingga 20 tahun dengan investasi riset dan pengembangan mencapai sekitar US$40 miliar. Sementara itu, China saat ini baru berkutat di teknologi 65 nanometer, jauh tertinggal dari TSMC yang sudah memproduksi chip 3 nanometer dan bersiap melangkah ke 2 nanometer.

"Keterbatasan teknologi litografi adalah kemacetan utama dalam industri chip China," ujar Goldman Sachs, menegaskan betapa sulitnya China untuk menutup jurang teknologi tersebut dalam waktu dekat. Mereka harus mengandalkan teknologi DUV yang lebih kuno dan kurang efisien, sehingga performa chip yang dihasilkan masih jauh di belakang standar global.

Ketergantungan besar terhadap impor teknologi Barat dan sanksi ketat dari AS mendorong China untuk meningkatkan inovasi dan pembangunan industri chip secara mandiri. Perlu strategi jangka panjang serta investasi yang sangat besar agar mampu mengatasi keterbatasan ini dan memperkuat posisi dalam persaingan global yang semakin sengit.

Situasi ini menjadi tantangan serius mengingat chip semikonduktor adalah elemen penting dalam perkembangan teknologi modern, termasuk di sektor smartphone, kecerdasan buatan, dan kendaraan listrik.

— (afr/afr)