Teknologi Daur Ulang Baterai Baru dari Eropa Guncang Dominasi China, Tantang Indonesia

Permalink 9 months ago 74

Foto: www.cnbcindonesia.com

Jakarta, Naralapor – Dua startup dari Inggris dan Jerman memperkenalkan teknologi baru untuk mendaur ulang baterai listrik yang diklaim bisa menandingi dominasi China dalam rantai pasok baterai global. Perkembangan ini sekaligus menyiapkan industri otomotif Eropa menghadapi aturan ketat mengenai bahan daur ulang untuk kendaraan listrik mulai 2030.

Altilium asal Inggris dan Tozero dari Jerman mengembangkan teknologi yang memungkinkan penggunaan material daur ulang pada baterai mobil listrik dengan kualitas serta performa setara dengan bahan baru. Penelitian dari Imperial College yang dilaporkan Altilium menyebutkan bahwa baterai kecil yang memakai katoda daur ulang mampu menunjukkan performa tidak kalah dengan baterai berkatoda baru.

Kandungan katoda baterai biasanya meliputi lithium, kobalt, nikel, dan mangan, yang menjadi fokus utama dalam proses daur ulang ini. Regulasi Uni Eropa mengharuskan mulai Agustus 2030, minimal 6% lithium dan nikel serta 16% kobalt yang digunakan dalam baterai kendaraan listrik harus berasal dari bahan daur ulang. Persentase tersebut akan meningkat setiap 5 tahun ke depan.

Christian Marston, COO Altilium, menyatakan, "Material daur ulang dapat mengurangi emisi CO2 hingga 70% dan biaya produksi sekitar 20% lebih murah dibanding bahan baru." Ia menambahkan, "Terobosan teknis ini membuat penggunaan material daur ulang jadi aman dan minim risiko bagi para pabrikan mobil."

Altilium telah menggandeng Tata Motors dari India untuk memproduksi sel baterai dengan material hasil daur ulang dari Jaguar i-Pace, menandai langkah konkret dalam penerapan teknologi tersebut.

Sementara itu, Tozero yang didukung oleh Honda tengah membangun pabrik grafit daur ulang dengan proses hidrometalurgi inovatif yang ramah lingkungan dan net zero emission saat menggunakan energi terbarukan. Mengingat grafit menyumbang hingga 40% dari jejak karbon baterai lithium-ion, teknologi ini dinilai sangat penting untuk keberlanjutan industri baterai.

Pabrik Tozero direncanakan beroperasi tahun 2027 dengan kapasitas 2.000 ton grafit daur ulang setiap tahun, yang cukup untuk memproduksi sekitar 50.000 mobil listrik.

Indonesia sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia memiliki posisi strategis dalam rantai pasokan baterai mobil listrik. Namun, kemajuan teknologi daur ulang baterai dari Eropa ini berpotensi mengubah dinamika pasar global dan mengurangi ketergantungan pada material baru, termasuk nikel dari Indonesia.

Dengan tekanan regulasi yang semakin ketat dan inovasi teknologi tersebut, masa depan industri baterai global diprediksi akan semakin berfokus pada nilai tambah melalui proses daur ulang yang efisien dan ramah lingkungan.

Fab/Fab