Teknologi AI Jadi Penyelamat Bahasa Lokal yang Terancam Punah

Permalink 9 months ago 81

Foto: www.liputan6.com

Jakarta, Naralapor – Di tengah kekhawatiran akan punahnya bahasa-bahasa lokal di dunia, teknologi kecerdasan buatan (AI) dan robotika kini muncul sebagai solusi inovatif untuk melestarikan bahasa asli komunitas. Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa, satu bahasa lokal punah setiap dua minggu, dan diperkirakan separuh bahasa di dunia akan hilang pada tahun 2100.

Salah satu inisiatif menarik datang dari Danny Boyer, pemuda asal komunitas Anishinaabe di Michigan, Amerika Serikat. Ia mengembangkan SkoBot, robot pengajar bahasa berbentuk hewan hutan seukuran cangkir kopi yang didesain khusus untuk anak-anak belajar bahasa Anishinaabemowin yang hampir punah. Robot ini diletakkan di bahu pengguna dan dapat melakukan percakapan interaktif dua arah menggunakan teknologi pengenalan suara AI. SkoBot mengenali kata dalam bahasa Inggris dan kemudian memutar suara rekaman asli kata tersebut dalam bahasa Anishinaabemowin, suara yang direkam sendiri oleh anak-anak komunitas mereka.

"Di komunitas kami, hilangnya bahasa antar-generasi terjadi sangat cepat," ujar Boyer. Ia menambahkan bahwa penerapan teknologi ini tidak hanya memudahkan proses belajar, tapi juga mengenalkan anak-anak pada ilmu pengetahuan dan teknologi seperti STEM melalui pengalaman membangun dan merakit robotnya sendiri.

Selain itu, Jared Coleman, asisten profesor dari California, juga mengerjakan proyek serupa untuk bahasa Paiute Lembah Owens. Termotivasi oleh pengalaman nenek moyangnya yang dilarang menggunakan bahasa sendiri di sekolah, Coleman melatih AI dengan model bahasa besar seperti GPT-3.5-turbo dan GPT-4 menggunakan kosa kata bahasa Paiute. Hasilnya adalah kamus online, pembuat kalimat, dan penerjemah bahasa yang diharapkan dapat membantu komunitas sekaligus menarik minat wisatawan.

Meski teknologi AI membawa harapan, muncul tantangan etika dan akurasi. Boyer dengan sengaja memilih menggunakan suara asli dalam rekamannya daripada audio hasil AI demi menjaga keaslian bahasa. "Bahasa adalah makhluk hidup ... pembelajaran bahasa harus selalu dilakukan bersama anggota komunitas, bukan hanya lewat robot atau ponsel," katanya. Begitu pula Coleman yang menjaga agar rekaman suara leluhurnya, termasuk lagu dan cerita suci, tidak langsung dimasukkan ke model AI guna menghormati nilai budaya.

Keduanya sepakat bahwa AI belum bisa menggantikan kekayaan budaya dan sejarah yang terkandung dalam bahasa. Oleh karena itu, teknologi dilihat sebagai alat bantu, bukan pengganti, dalam upaya melestarikan bahasa lokal yang berharga ini.