Tekanan Amerika dan Tantangan Infrastruktur Bikin Malaysia Susah Jadi Raja Pusat Data, Peluang Besar untuk Indonesia

Permalink 9 months ago 68

Foto: www.cnbcindonesia.com

Jakarta, Naralapor – Malaysia sedang mengalami tekanan besar dalam ambisinya menjadi pusat data terbesar di dunia. Di tengah upaya menggaet investasi teknologi dari raksasa-raksasa global, negara ini harus menghadapi kendala dari sisi regulasi hingga infrastruktur.

Tekanan utama datang dari Amerika Serikat yang mewajibkan Malaysia untuk mengawasi ketat penggunaan chip AI asal AS oleh perusahaan China yang beroperasi di wilayahnya. Pemerintah Malaysia telah mengimplementasikan sistem izin sejak Juli lalu bagi semua aktivitas yang melibatkan chip berkinerja tinggi, seperti buatan Nvidia. Langkah ini untuk mencegah fasilitas pusat data di Malaysia menjadi pintu belakang bagi China mengakses teknologi AI sensitif, sesuai aturan pengendalian ekspor AS.

Meski Amerika Serikat tengah mengajukan kebijakan pengawasan ketat, Malaysia masih menjadi magnet investasi bagi banyak pemain besar teknologi, mulai dari Microsoft, Amazon, Alphabet (Google) hingga perusahaan China seperti Tencent, Huawei, dan Alibaba. Alasannya salah satunya biaya tanah dan listrik yang relatif murah, serta potensi permintaan AI lokal yang terus tumbuh.

Namun berbagai tantangan juga tidak bisa diabaikan, khususnya dari sisi infrastruktur seperti keterbatasan kapasitas listrik dan sumber daya air yang merupakan bahan bakar vital untuk operasional pusat data.

Di Johor, sebuah wilayah di Malaysia yang menjadi pusat perhatian, tercatat sudah ada 12 pusat data dengan kapasitas total 369,9 MW per Desember 2024. Angka ini diperkirakan akan meningkat drastis dengan tambahan 28 pusat data baru yang diproyeksikan mencapai 898,7 MW, menurut laporan Knight Frank.

Investasi di Johor hingga kuartal kedua 2025 sudah mencapai 42 proyek dengan nilai 164,45 miliar ringgit atau setara Rp 640 triliun, menyumbang hampir 79% kapasitas pusat data IT Malaysia.

Fenomena ini membuka peluang besar bagi Indonesia. Mengingat negara tetangga sudah mulai kewalahan dalam menghadapi regulasi dan keterbatasan infrastruktur, Indonesia bisa menjadi destinasi baru yang menjanjikan bagi para investor dan perusahaan teknologi global yang mencari alternatif lebih efisien dan aman.

Dengan persiapan yang apik, Indonesia berpotensi memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat industrinya di bidang pusat data dan teknologi AI, memastikan investasi dan pengembangan teknologi dapat terus mengalir ke dalam negeri.

(dem/dem)

Catatan Redaksi: Laporan ini mengambil data dan informasi dari sejumlah sumber kredibel termasuk Reuters dan Knight Frank mengenai perkembangan pusat data di Malaysia sebagai konteks peluang Indonesia di sektor ini.