Shein Buka Toko Fisik Pertama di Prancis, Menuai Kritikan Tajam dari Pelaku Ritel Lokal

Permalink 8 months ago 69

Foto: www.cnbcindonesia.com

Jakarta, Naralapor – Shein, raksasa e-commerce asal China yang pernah dilarang beroperasi di Indonesia, kini melebarkan sayapnya dengan membuka toko fisik pertamanya di Prancis. Langkah ini menjadi strategi baru bagi perusahaan yang sebelumnya hanya mengandalkan popup store sebagai bentuk pemasaran.

Shein menggandeng Societe des Grands Magasins (SGM), pemilik beberapa department store ternama seperti BHV dan Galeries Lafayette, untuk menjalankan toko fisiknya di Perancis. Frederic Merlin, Presiden SGM, mengaku optimis kehadiran Shein akan menarik minat konsumen muda dan memungkinkan mereka berbelanja barang Shein sekaligus produk desainer di satu tempat.

Namun, rencana ini menuai pro dan kontra. Galeries Lafayette, salah satu department store yang dikelola SGM, menyatakan ketidaksepakatannya. Mereka menganggap kehadiran Shein bertentangan dengan nilai dan penawaran yang selama ini mereka pegang.

"Galeries Lafayette tidak setuju dengan keputusan terkait posisi dan praktik merek fesyen ultra cepat yang bertentangan dengan penawaran dan nilainya," ujar Galeries Lafayette, dilansir dari Reuters.

Selain itu, Yann Rivoallan, ketua asosiasi ritel mode Fédération Francaise du Pret-a-Porter, menyoroti dampak negatif masuknya Shein ke pasar lokal. Ia memperingatkan bahwa toko Shein yang dibangun di depan Balai Kota Paris akan berpotensi membanjiri pasar dengan produk pakaian sekali pakai, yang berkontribusi pada budaya fast fashion yang sulit berkelanjutan.

Walikota Paris, Anne Hidalgo, pun menyatakan kekecewaannya. Menurutnya, kehadiran Shein justru bertolak belakang dengan misi kotanya dalam mendukung perdagangan berkelanjutan serta bisnis dan produk lokal.

Shein dikenal dengan model bisnis yang mengandalkan pengiriman langsung dari China ke konsumen, memungkinkan perusahaan memotong biaya dan menawarkan harga sangat murah. Hal ini juga didukung oleh regulasi bea cukai yang membebaskan pajak impor untuk paket e-commerce bernilai rendah, sehingga semakin menekan harga produk.

Di tengah sorotan dan kritik tajam yang terjadi di Prancis, masa depan ekspansi merek fesyen asal China ini akan menjadi perhatian para pelaku pasar dan pemerintah setempat, terutama terkait isu keberlanjutan dan dukungan terhadap industri lokal.