Serangan Siber Besar-besaran China Bikin Amerika Serikat dan Dunia Terancam

Permalink 8 months ago 65

Foto: www.cnbcindonesia.com

Jakarta, Naralapor – Amerika Serikat tengah menghadapi ancaman besar dari serangan siber masif yang diduga dilakukan oleh Kementerian Keamanan Negara China (Ministry of State Security/MSS). Aksi peretasan ini tidak hanya menargetkan jaringan di AS, tetapi juga puluhan negara lainnya, menimbulkan kekhawatiran serius akan keamanan dunia.

Direktur CIA, William J. Burns, diketahui pernah melakukan perjalanan rahasia ke Beijing pada tahun 2023 untuk memberikan peringatan langsung kepada Menteri Keamanan Negara China. Burns menegaskan bahwa akan ada konsekuensi besar jika malware yang sudah disiapkan benar-benar diluncurkan. Namun, alih-alih mereda, serangan justru semakin meluas.

Sebuah kelompok peretas yang dikenal sebagai Salt Typhoon terungkap telah menyusup dalam jaringan berbagai negara selama bertahun-tahun. Mereka berhasil mencuri data hampir seluruh warga AS dan menyasar berbagai target di dunia. Negara-negara korban bersama-sama menyatakan data curian tersebut memungkinkan Beijing melacak komunikasi serta pergerakan target secara global.

Ahli keamanan menilai MSS kini menjadi salah satu badan intelijen siber paling tangguh sejagat, sebanding dengan Badan Keamanan Nasional (NSA) Amerika Serikat dan GCHQ Inggris. Berbeda dengan serangan siber China sebelumnya yang sering ceroboh, operasi Salt Typhoon berjalan sangat sistematis: mulai dari mencari celah, menyusup, mencuri data, bergerak ke jaringan lain, hingga menutup jejak mereka.

Alex Joske, penulis buku tentang MSS, menuturkan kepada New York Times bahwa "Salt Typhoon menunjukkan sisi strategis dan keterampilan tinggi dari operasi siber MSS, sesuatu yang selama ini tidak terlihat karena fokus pada peretas bayaran berlevel lebih rendah."

Washington memandang ancaman ini sangat serius. Dalam skenario konflik masa depan, China diperkirakan dapat melumpuhkan infrastruktur krusial AS, seperti sistem komunikasi, listrik, dan distribusi air. Nigel Inkster, mantan pejabat intelijen MI6 Inggris, menilai serangan ini juga merupakan taktik intimidasi Beijing.

"Jika mereka berhasil tetap tersembunyi di dalam jaringan, itu memberikan keuntungan besar saat krisis. Namun, jika terdeteksi pun, efek gentar tetap terasa. Pesan yang ingin disampaikan jelas: 'Inilah kemampuan kami jika sungguh-sungguh menargetkan Anda,'" ungkap Inkster.

Kebangkitan MSS berkaitan dengan reformasi yang digencarkan Xi Jinping sejak 2012. Xi membatasi peran militer dalam operasi pemrograman serangan, melakukan pembersihan pejabat korup di kementerian, dan menjadikan keamanan nasional sebagai fokus utama kebijakan. Strategi ini dibarengi dengan kolaborasi erat dengan perusahaan teknologi lokal, membangun jalur perekrutan peretas yang lebih terstruktur dan profesional.

Menariknya, pemerintah China mewajibkan setiap kerentanan perangkat lunak baru untuk dilaporkan ke sebuah basis data yang diduga dikelola oleh MSS. Para perusahaan teknologi domestik pun diberi insentif finansial untuk memenuhi kuota pelaporan celah keamanan setiap bulannya, yang semakin memperkuat akses dan kontrol MSS atas keamanan siber.

Dengan situasi serangan yang terus memburuk, dunia kini menaruh perhatian besar pada perkembangan kemampuan siber China yang berpotensi mengubah landscape keamanan global.

(fab/fab)