Rahasia Jepang Bisa Tekan Korban Jiwa Saat Tsunami: Bukan Hanya Teknologi, tapi Literasi dan Evakuasi Cepat

Permalink 9 months ago 73

Foto: www.cnbcindonesia.com

Jakarta, Naralapor - Jepang dikenal luas sebagai negara yang berhasil mengurangi jumlah korban jiwa saat tsunami melanda. Kunci keberhasilan ini ternyata bukan semata dari teknologi peringatan dini yang canggih, tetapi lebih kepada kesadaran dan literasi masyarakat dalam merespons bahaya dengan cepat.

Makoto Takahashi dari Pascasarjana Ilmu Lingkungan Universitas Nagoya menjelaskan bahwa permasalahan utama bukanlah kurangnya informasi, melainkan ketidaksiapan warga untuk segera bertindak setelah peringatan tsunami dikeluarkan. "Japan Meteorological Agency (JMA) bisa memberikan peringatan hanya dalam waktu tiga menit pasca gempa, tapi masih banyak warga yang terlambat bereaksi. Pencegahan tsunami bukan melawan gelombang, tapi kemampuan evakuasi cepat," tuturnya pada kuliah umum bertajuk "Menghubungkan Prediksi, Aksi Lokal, dan Literasi Bencana" yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Kependudukan (PRK) BRIN bersama Universitas Nagoya.

Contoh nyata keberhasilan ini dapat dilihat di Desa Nishiki, Jepang Tengah. Desa ini membangun literasi bencana lewat tiga pilar utama: pertama, menyediakan jalur dan fasilitas evakuasi yang memadai; kedua, menciptakan budaya sadar bencana melalui peringatan dan simulasi rutin; ketiga, mengembangkan sistem peringatan berbasis komunitas. Strategi tersebut berhasil menekan risiko korban jiwa secara signifikan.

Selain itu, sejak 2003 pemerintah desa juga melakukan relokasi penduduk ke dataran lebih tinggi, terutama untuk melindungi kelompok lansia yang jumlahnya makin bertambah. Ada pula pendekatan kolaboratif yang melibatkan organisasi nelayan agar warga pesisir semakin siap menghadapi bahaya tsunami.

Gelombang tsunami di Hokkaido setelah gempa kuat
Gelombang besar di Hokkaido, Jepang, menyusul gempa kuat di Semenanjung Kamchatka, Rusia (Foto: Reuters/NNN/JAPAN)

Di sisi lain, Kenji Muroi dari Universitas Nagoya memberikan pelajaran berharga dari peristiwa gempa dan tsunami Jepang Timur 2011. Pasca bencana itu, pemerintah menaikkan asumsi risiko gempa di Nankai Trough ke kategori "kelas maksimum" meski probabilitas terjadinya rendah. Kebijakan tersebut bertujuan meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat strategi pengurangan risiko bencana.

Namun, Muroi mengingatkan pentingnya komunikasi risiko yang bijaksana. "Prediksi ilmiah tanpa penyampaian hati-hati bisa menimbulkan kekhawatiran berlebih dan berdampak negatif, seperti turunnya nilai properti. Komunikasi harus sederhana, mudah dipahami, serta tidak menimbulkan ketakutan yang berlebihan," ujarnya.

Ali Yansyah Abdurrahim, Plt Kepala PRK BRIN, berharap pelajaran dari Jepang bisa memperkuat literasi bencana di Indonesia dan membuka peluang kerja sama yang lebih luas. "Wawasan ini tak hanya memperkaya pemahaman akademik tapi juga membangun kolaborasi internasional yang lebih konkret," katanya.

Pengalaman Jepang tersebut menjadi sumber inspirasi bagi Indonesia untuk mengadopsi praktik literasi bencana, mengoptimalkan simulasi evakuasi, serta mengembangkan sistem kesiapsiagaan yang laencar dan adaptif sesuai kondisi lokal, demi meminimalisasi risiko korban jiwa akibat tsunami di masa depan.