Presiden Venezuela Klaim Ponsel Huawei Tak Bisa Diretas oleh Hacker AS

Permalink 9 months ago 74

Foto: inet.detik.com

Jakarta – Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, secara bangga memamerkan ponsel Huawei miliknya dan mengklaim bahwa perangkat tersebut adalah yang terbaik di dunia karena tidak bisa diretas oleh hacker Amerika Serikat.

Dalam konferensi pers pada hari Senin (1/9), Maduro menunjukkan ponsel yang tampak seperti Huawei Mate X6, sebuah ponsel layar lipat yang dirilis Huawei pada tahun 2024 dan merupakan hadiah dari Presiden China, Xi Jinping.

"Ini HP terbaik di dunia, Huawei, dan Amerika tidak dapat meretasnya, baik pesawat mata-mata mereka maupun satelit mereka," kata Maduro.

Namun, klaim tersebut menuai skeptisisme dari para ahli keamanan. Seorang peneliti keamanan yang berbasis di Amerika Serikat menyatakan bahwa karena Huawei mengembangkan perangkat keras dan sistem operasi sendiri, justru perangkat ini berpotensi lebih mudah diretas.

"Pasti ada lebih banyak kesalahan dalam kode baru mereka dibandingkan di iOS dan Android saat ini," ungkap peneliti yang memilih untuk tetap anonim karena sifat sensitif dari isu ini.

Huawei kini menggunakan HarmonyOS, sistem operasi hasil pengembangan sendiri setelah putus hubungan dengan Google dan ekosistem Android. Sama seperti perangkat lunak lainnya, HarmonyOS juga memiliki bug dan memerlukan pembaruan keamanan secara rutin.

Bulan lalu, Huawei menambal 60 bug pada HarmonyOS, dengan 14 di antaranya dikategorikan sangat serius. Bahkan Huawei mengakui kemungkinan perangkat mereka disusupi malware dan menyediakan laman khusus untuk membantu pengguna bila perangkat mereka terindikasi diretas.

Selain itu, hacker pemerintah AS juga diketahui aktif menargetkan Huawei dan sistemnya. Dokumen bocoran dari whistleblower Edward Snowden pada 2014 mengungkap bahwa National Security Agency (NSA) berhasil meretas dan menyisipkan backdoor pada server Huawei di China. Peretasan ini memungkinkan mereka memata-matai komunikasi eksekutif Huawei dan mengakses informasi produk perusahaan.

Klaim Maduro bisa jadi lebih merupakan bentuk dukungan politik dan simbolik daripada refleksi keamanan nyata dari perangkat Huawei, mengingat sejarah serangan dan lubang keamanan yang pernah ditemukan pada sistem tersebut.