Jakarta, Naralapor – Kematian tragis seorang remaja berusia 16 tahun bernama Adam Raine yang bunuh diri setelah berbulan-bulan berkomunikasi secara intens dengan ChatGPT memicu respons serius dari OpenAI. Keluarga korban menuntut perusahaan dan CEO Sam Altman, menuding OpenAI terburu-buru meluncurkan versi terbaru chatbot tanpa memperhatikan aspek keamanan platform.
Menurut dokumen pengadilan di San Francisco, Adam Raine sempat membahas metode bunuh diri dengan ChatGPT, dan disebutkan bahwa chatbot memberikan informasi serta panduan terkait efektivitas metode-metode tersebut.
Menanggapi hal ini, OpenAI mengumumkan rencana menghadirkan fitur baru yang memungkinkan sistem memberikan peringatan kepada orang tua apabila terdapat indikasi tekanan berat pada anak saat menggunakan ChatGPT. Fitur ini akan fokus pada perlindungan anak di bawah umur dan dijadwalkan rilis pada bulan depan, seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (3/9/2025).
Fitur tambahan lainnya memungkinkan orang tua mengaitkan akun mereka dengan akun ChatGPT anak dan mengatur bagaimana chatbot merespons sesuai dengan usia anak. Hal ini diharapkan membantu dalam mengawasi interaksi AI dan mencegah potensi bahaya psikologis.
Meskipun langkah ini mendapat sambutan positif, beberapa pakar keamanan digital menilai upaya OpenAI belum memadai. Mereka menekankan perlunya pengujian dan regulasi yang ketat sebelum chatbot AI seperti ChatGPT dapat digunakan secara luas oleh anak-anak dan remaja.
Dalam sebuah blog resmi, OpenAI menyatakan, "Banyak anak muda sekarang ini adalah generasi penduduk asli AI, yang tumbuh bersama teknologi ini seolah bagian dari keseharian mereka, mirip seperti generasi sebelumnya dengan internet dan ponsel pintar. Ini membuka peluang besar untuk dukungan, pembelajaran, dan kreativitas, namun juga membutuhkan pendekatan yang tepat dari keluarga dan pihak terkait agar dapat menyesuaikan dengan tahap perkembangan unik dari setiap remaja."
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan untuk menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami depresi atau pikiran untuk bunuh diri, segera hubungi tenaga profesional seperti psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan mental terdekat.









