OpenAI Luncurkan Platform Lowongan Kerja Berbasis AI, Tantang Dominasi LinkedIn

Permalink 9 months ago 71

Foto: inet.detik.com

Jakarta – OpenAI, pengembang ChatGPT, tengah menyiapkan gebrakan baru di dunia pekerjaan dengan meluncurkan platform lowongan kerja yang mengandalkan kecerdasan buatan (AI). Langkah ini dinilai berpotensi menjadi pesaing utama LinkedIn, yang selama ini menguasai pasar platform karir digital.

Platform yang dinamai OpenAI Jobs ini akan menghubungkan para pencari kerja dengan perusahaan yang sesuai melalui teknologi AI yang canggih. Tidak hanya berfokus pada perusahaan besar, OpenAI merancangnya agar juga membantu usaha lokal dan pemerintah daerah menemukan talenta AI yang tepat guna mendukung layanan dan kebutuhan mereka.

Fidji Simo, Chief Executive Officer of Applications OpenAI, menyampaikan bahwa layanan ini ditargetkan hadir pada pertengahan 2026. “Platform ini tidak hanya memberikan peluang bagi perusahaan besar menarik talenta, tapi juga mendukung bisnis lokal dan institusi pemerintah agar bisa berkompetisi dan memenuhi kebutuhan tenaga kerja AI,” ujarnya.

Selain platform lowongan kerja, OpenAI juga akan menghadirkan program sertifikasi terintegrasi dengan OpenAI Academy, sebuah platform pembelajaran daring. Program ini bertujuan mengasah kemampuan AI para pekerja dari tingkat dasar hingga keahlian khusus seperti rekayasa AI cepat, disertai sertifikat resmi yang bisa dipakai perusahaan sebagai bagian dari program pelatihan internal mereka.

Fidji Simo menjelaskan bahwa metode pembelajaran tersebut menggunakan mode Belajar ChatGPT, di mana chatbot bertindak sebagai pengajar yang memberikan pertanyaan, arahan, dan umpan balik, bukan sekadar jawaban instan.

Dalam implementasinya, OpenAI telah menjalin kerja sama dengan Walmart, perusahaan swasta terbesar di Amerika Serikat. Target ambisiusnya adalah mensertifikasi 10 juta warga Amerika dalam bidang AI pada tahun 2030.

Langkah ini muncul di tengah perdebatan soal dampak AI terhadap dunia kerja. Simo mengakui bahwa teknologi AI memiliki kekuatan disruptif yang menuntut pekerja dan perusahaan untuk beradaptasi. “Yang bisa kami lakukan adalah membantu lebih banyak orang menguasai AI dan menghubungkan mereka dengan perusahaan yang membutuhkan keterampilan tersebut sehingga membuka peluang ekonomi lebih luas,” ujarnya.

Penelitian dari Lightcast memperlihatkan posisi pekerjaan yang memerlukan keahlian AI umumnya menawarkan gaji lebih tinggi dibandingkan pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan AI. Selain itu, inisiatif OpenAI ini juga mendukung upaya pemerintah Amerika Serikat dalam memperluas literasi AI di masyarakat.