Microsoft Tawarkan Layanan Cloud yang Bisa Hemat Hingga Rp 98 Triliun untuk Pemerintah AS, Begini Syaratnya

Permalink 9 months ago 90

Foto: www.cnbcindonesia.com

Jakarta  - Microsoft melalui layanan cloud-nya menyiapkan penawaran khusus yang berpotensi membuat negara, khususnya pemerintah AS, menghemat pengeluaran hingga sekitar Rp 98 triliun atau setara US$6 miliar selama tiga tahun.

Penghematan besar ini terjadi dengan adopsi layanan cloud Microsoft di lembaga Badan Layanan Umum (GSA) AS. Dalam tahun pertama, layanan ini diproyeksikan menghemat hingga Rp 51 triliun atau US$3,1 miliar, dan berlanjut hingga September 2026.

Agar mendapatkan harga spesial tersebut, pembelian layanan harus dilakukan melalui GSA (General Services Administration). Layanan yang ditawarkan mencakup Microsoft Office, Azure, aplikasi bisnis Dynamic 365, hingga software keamanan siber Sentinel.

Selain itu, Microsoft juga memberikan akses gratis selama satu tahun untuk asisten AI bernama Copilot kepada pekerja yang menggunakan Microsoft 365 G5.

Josh Gruenbaum, Komisaris Layanan Akuisisi Federal di GSA, mengungkapkan telah berkonsultasi langsung dengan CEO Microsoft Satya Nadella mengenai kesepakatan ini. Ia menyebut, "Bagian terpentingnya adalah dia ingin bermitra dengan pemerintahan dan melakukan hal yang benar pada adopsi AI. Namun saya juga berpikir dia ingin mengambil pangsa pasar sejumlah perangkat dan layanan lain."

Gruenbaum juga memuji Microsoft sebagai mitra utama pemerintahan yang menghasilkan pendapatan miliaran dolar setiap tahunnya.

Penghematan biaya ini sejalan dengan upaya pemerintah AS di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump yang kembali berfokus pada efisiensi anggaran. GSA pun meluncurkan strategi OneGov untuk mengatur pengeluaran dengan tujuan menurunkan biaya layanan.

Selain Microsoft, beberapa perusahaan besar seperti Adobe, Amazon, Google, dan Salesforce juga telah memberikan diskon khusus untuk layanan mereka kepada pemerintah AS.

Dengan langkah ini, pemerintah AS berharap dapat meningkatkan pemanfaatan teknologi sekaligus mengefisienkan pengeluaran tanpa mengorbankan kualitas layanan digital dan keamanan siber.