Menteri Investasi: AI Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi dan Investasi Digital Indonesia

Permalink 4 months ago 118

Foto: www.cnbcindonesia.com

Jakarta, Naralapor – Dalam era kemajuan kecerdasan buatan (AI) yang pesat, Indonesia melihat teknologi ini bukan hanya sebagai infrastruktur semata, tetapi sebagai motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi di masa depan. Menurut Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan P. Roeslani, langkah Indonesia menyambut perkembangan AI dengan penuh optimisme, sembari memastikan bahwa pertumbuhan teknologi tetap sejalan dengan pemerataan kesejahteraan dan pelestarian lingkungan.

Dalam forum Tri Hita Karana G20 Bali Global Blended Finance Alliance Dialogue bertema Sustainable AI: Balancing Compute Growth with Equitable Prosperity di Indonesia Pavilion, WEF Davos 2026, Rosan menegaskan pentingnya memperlakukan ekspansi kapasitas komputasi secara hati-hati.

"Di Indonesia, AI bukan hanya bagian dari infrastruktur, tetapi juga pendorong pertumbuhan ekonomi di masa depan," ujar Rosan, Senin (26/1/2026).

Data dari McKinsey Global Institute memperkirakan AI dapat meningkatkan produktivitas global hingga US$ 13 triliun per tahun pada 2030. Namun, peningkatan kebutuhan energi untuk komputasi AI berpotensi meningkat dua kali lipat setiap 3-4 tahun jika tidak diimbangi dengan efisiensi. Hal ini menjadi perhatian utama Indonesia agar perkembangan teknologi tetap ramah lingkungan.

Rosan menambahkan, "Sebagai bagian dari strategi investasi, kami terus menyederhanakan kebijakan, aturan, dan regulasi demi menciptakan iklim investasi yang kondusif. Kami berkomitmen pada kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, untuk menghasilkan lapangan kerja yang lebih berkualitas bagi masyarakat."

Selain itu, tren investasi global dalam infrastruktur AI dan data center menunjukkan lonjakan signifikan, dengan proyeksi mencapai lebih dari US$ 500 miliar pada 2027, naik lebih dari 80% dari 2023. Hal ini membuka peluang besar bagi Indonesia sebagai negara berkembang untuk menarik modal serta teknologi mutakhir.

Indonesia juga memposisikan ekonomi digital sebagai pilar strategis nasional. Berdasarkan laporan Google-Temasek-Bain e-Conomy SEA 2025, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan menembus US$ 100 miliar dengan pertumbuhan lebih dari 20% per tahun. Prediksi dari Boston Consulting Group pun menempatkan Indonesia sebagai pasar digital terbesar di Asia Tenggara dengan potensi mencapai US$ 340 miliar pada 2030.

Untuk mendukung ambisi tersebut, Indonesia mengembangkan pendanaan inovatif melalui mekanisme blended finance yang mengintegrasikan modal publik dan swasta agar percepatan pembangunan infrastruktur digital dapat berjalan secara skala besar sekaligus berkelanjutan.

Berbagai kebijakan seperti reformasi perizinan melalui Online Single Submission (OSS) yang terintegrasi, serta insentif perpajakan berupa tax allowance dan tax holiday bagi industri teknologi menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem investasi digital di Tanah Air.

Diskusi panel yang dihadiri tokoh-tokoh penting, seperti Craig Cogut dari Pegasus Capital Advisors dan Green Climate Fund, Calista Redmond dari NVIDIA, serta perwakilan Microsoft dan BYD, memperkuat komitmen global terhadap pengembangan AI berkelanjutan yang inklusif dan bertanggung jawab.

Melalui tema "Endless Horizons with Indonesia", pesan yang dibawa adalah keterbukaan, stabilitas kebijakan, dan tata kelola teknologi yang adil sebagai fondasi utama menghadapi dinamika ekonomi digital global. Indonesia menyatakan kesiapan menjadi mitra investasi yang dapat diandalkan dan berorientasi jangka panjang dalam transformasi digital dunia.

(rah/rah)