Jakarta, Naralapor – Teknologi pemindaian wajah atau face recognition kini mulai diterapkan dalam uji coba registrasi eSIM sebagai salah satu inovasi dalam memastikan keamanan data pelanggan. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Komdigi) juga mengungkap penggunaan teknologi biometric lain, seperti sidik jari, dalam proses registrasi nomor ponsel.
Registrasi yang menggunakan verifikasi biometrik ini bertujuan menciptakan integrasi data antara Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan nomor ponsel, memastikan bahwa satu NIK hanya dapat terdaftar di maksimal tiga nomor. Data yang diambil langsung dari database kependudukan Ditjen Dukcapil menjadi tulang punggung keamanan sistem ini.
Peraturan ini tidak hanya berlaku untuk eSIM, namun juga kartu SIM fisik. Meski demikian, kebijakan pemindaian wajah ini belum diwajibkan bagi pelanggan lama yang sudah terdaftar sebelumnya dengan metode konvensional seperti KTP dan Kartu Keluarga.
Reski Damayanti, Chief Legal & Regulatory Officer Indosat Ooredoo Hutchison sekaligus Ketua GASA Indonesia, memaparkan bahwa perusahaan telah melakukan sejumlah uji coba dan sudah siap untuk mengimplementasikan teknologi biometric tersebut. Namun, dia menekankan pentingnya mempertimbangkan keberagaman kondisi masyarakat Indonesia demi memudahkan akses tanpa menimbulkan beban:
"Tapi balik lagi, karena kan kita juga harus melihat konsumen Indonesia ini kan berbagai macam ya. Jangan sampai kemudian jadi memberatkan konsumen. Itu yang kami sampaikan kepada Komdigi. Tolong lihat, kita Indonesia ini ada berapa ribuan pulau," ujar Reski pada Jumat (31/10/2025).
Menurut Reski, penggunaan scan wajah bukan sekadar tren teknologi, tetapi juga sebagai upaya mengurangi risiko penipuan identitas. Dengan teknologi biometrik, autentikasi menjadi lebih aman karena verifikasi wajah akan sesuai dengan pemilik asli, sehingga menghindari penggunaan identitas orang lain.
"Oh iya, pastinya penting. Karena kan mukanya muka dia ya, kecuali dia bisa pinjem muka orang. Itu udah pasti cukup penting," tegasnya.
Meski demikian, Reski mengingatkan agar tidak berpuas diri dengan satu teknologi saja. Dia menegaskan pentingnya beradaptasi mengikuti perkembangan zaman dan inovasi agar bisa terus menghadapi tantangan, termasuk strategi penipu yang juga berkembang seiring teknologi baru muncul.
"Tapi kita tetap jangan sampai kemudian menurut saya kita merasa puas, karena teknologi terus berkembang dan kita juga harus terus untuk berkembang dari sisi teknologi," pungkasnya.
Dengan kemajuan teknologi biometrik ini, diharapkan registrasi nomor ponsel di Indonesia dapat semakin aman dan terpercaya, mendukung perlindungan data pribadi sekaligus meminimalisir penyalahgunaan nomor telepon yang marak terjadi.









