Menghadapi Megathrust di Indonesia: Fakta dan Upaya Mitigasi yang Perlu Kita Ketahui

Permalink 9 months ago 72

Foto: inet.detik.com

Jakarta – Indonesia berada di zona megathrust, yaitu wilayah tumbukan lempeng tektonik bawah laut yang dapat memicu gempa bumi besar. Kondisi ini menuntut kita untuk memahami lebih baik potensi bencana yang mengintai sekaligus bagaimana cara beradaptasi dan mengurangi risikonya.

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nuraini Rahma Hanifa, menjelaskan bahwa gempa megathrust sering kali terjadi di sekitar Sumatera, Jawa, dan Indonesia Timur. Meski ada beberapa area yang tampak kosong dari kejadian, wilayah tersebut sebenarnya merupakan 'seismic gap'—zona yang berpotensi mengalami gempa besar kapan saja.

Rahma mengingatkan bahwa megathrust sendiri berarti patahan naik yang sangat besar dan Indonesia, yang terletak di Ring of Fire, memiliki wilayah yang luas dan rentan terhadap gempa jenis ini. "Megathrust beserta potensi gempanya adalah nyata, namun ini fenomena alam yang harus kita hadapi dengan adaptasi dan mitigasi," ucapnya.

Dari hasil peta gempa terbaru yang sedang diperbarui dan diharapkan tuntas akhir 2024, lokasi megathrust utama Indonesia membentang dari barat Sumatera hingga selatan Jawa. Bidang megathrust itu sendiri punya ukuran sebesar Pulau Jawa, dengan potensi pergerakan hingga 20 meter yang bisa menyebabkan guncangan besar.

Rahma menjelaskan lebih rinci, "Di selatan Jawa, megathrust membentang sepanjang 1.000 km dengan lebar bidang kontak 200 km dan kedalaman sampai 60 km. Di bawah Pulau Jawa, lempeng samudra Indo-Australia yang menyusup ke bawah lempeng kontinental menciptakan bidang megathrust."

Dalam menghadapi megathrust, kunci utama adalah memahami risiko dan kapasitas adaptasi penduduk. Rahma mengatakan bahwa risiko bencana merupakan fungsi dari bahaya dan kerentanan yang dibagi dengan kemampuan beradaptasi. Jika kapasitas adaptasi rendah, maka risiko bencana menjadi tinggi.

"Jika kita sudah tahu potensi bencana tetapi tidak melakukan apa-apa, risiko akan terus meningkat," tegas Rahma. Oleh karenanya, meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat sangat penting.

Selain ancaman utama berupa getaran gempa dan patahan permukaan, ada juga ancaman sekunder seperti tsunami, longsor, likuifaksi, serta kebakaran yang harus diantisipasi bersama.

Rahma menutup dengan pesan optimis, "Kita bisa hidup berdampingan dengan fenomena megathrust dan tidak perlu takut. Sebagai negara kepulauan, kita harus siap dan mampu beradaptasi."

Dengan pemahaman dan persiapan yang baik, masyarakat Indonesia dapat mengurangi risiko dan merespons bencana megathrust dengan lebih efektif.