Mantan Kepala Keamanan WhatsApp Tuduh Meta Tutupi Celah Keamanan yang Berbahaya

Permalink 9 months ago 63

Foto: inet.detik.com

Jakarta – Seorang mantan kepala keamanan WhatsApp yang juga merupakan mantan karyawan Meta, Attaullah Baig, menuduh perusahaan induk Facebook tersebut menyembunyikan kelemahan sistem keamanan serius di aplikasi pesan WhatsApp. Tuduhan ini diajukan dalam gugatan resmi di pengadilan Distrik Utara California.

Dalam gugatan tersebut, Baig mengklaim dia menemukan adanya celah keamanan yang memungkinkan sekitar 1.500 teknisi WhatsApp bisa mengakses data pengguna secara bebas, termasuk informasi pribadi sensitif, tanpa ada jejak audit atau sistem pendeteksi. Hal ini menurut Baig, melanggar aturan keamanan dan hukum federal, termasuk kewajiban Meta untuk melindungi privasi pengguna sebagai hasil kesepakatan mereka dengan Federal Trade Commission (FTC) pada 2020.

Baig mengaku telah berulang kali mengingatkan para pimpinan WhatsApp dan Meta, termasuk CEO Mark Zuckerberg, tentang risiko ini. Bahkan, ia melaporkannya ke U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) dengan alasan Meta tidak transparan kepada investor terkait risiko keamanan siber ini. Menurutnya, setelah mengungkap masalah tersebut, penilaian kinerja Baig tiba-tiba menurun drastis, dan hanya berselang tiga hari kemudian ia mulai menerima evaluasi negatif di tempat kerja.

Jubir Meta kemudian membantah semua tudingan tersebut. Mereka menyatakan, "Ini adalah strategi yang sering dilakukan oleh mantan karyawan yang dipecat karena kinerja buruk untuk mempublikasikan klaim yang menyesatkan. Kami sangat bangga dengan kerja keras tim kami dalam melindungi privasi pengguna." Menurut perusahaan, Baig masuk dalam bagian dari pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran pada Februari 2025 yang mempengaruhi sekitar 5% karyawan.

Kasus ini menambah perdebatan tentang bagaimana perusahaan teknologi besar menangani isu keamanan data dan bagaimana whistleblower di dalam perusahaan mengangkat masalah tersebut ke permukaan. Sementara Meta menegaskan terus memperkuat langkah perlindungan pengguna, tuduhan Baig mencuatkan perhatian baru soal potensi risiko keamanan di salah satu aplikasi pesan paling populer di dunia.