Jakarta, Naralapor – Seiring dengan antisipasi dunia astronomi, sebuah komet baru bernama C/2025 A6 (Lemmon) akan melintas dekat Bumi pada Oktober 2025 mendatang. Meski ukurannya besar, jarak dekat komet dengan Bumi masih cukup aman, sehingga masyarakat dapat menyaksikan penampakan langka ini dengan bantuan teleskop.
Komet Lemmon ditemukan oleh Mount Lemmon Survey (MLS) menggunakan teleskop reflektor Cassegrain berukuran 60 inci (1,52 meter) yang dilengkapi kamera dengan resolusi 10560x10560 piksel. Pada awal ditemukannya, komet ini sempat disangka asteroid biasa oleh para astronom karena cahaya yang terpancar sangat redup.
Data orbit komet yang dikumpulkan sejak November 2024 hingga Agustus 2025 menunjukkan bahwa komet ini akan mencapai titik terdekatnya dengan Matahari (perihilion) pada 8 November 2025, dengan jarak 79,25 juta kilometer. Sebelum itu, pada tanggal 20 Oktober 2025, komet Lemmon diperkirakan melintas di jarak terdekatnya dari Bumi sekitar 89,16 juta kilometer.
Pakar komet dari Jepang dan Belanda, Seiichi Yoshida dan Gideon Van Buitenen, memperkirakan magnitude komet saat puncaknya berada di antara +4 hingga +5. Ini berarti komet kemungkinan hanya terlihat samar-samar dengan mata telanjang, terutama di lokasi dengan polusi cahaya rendah. Namun, ada juga pendapat lain dari Daniel WE Green dari Biro Pusat Telegram Astronomi yang menyatakan bahwa magnitude komet pada 27 Oktober bisa mencapai +7,3, sehingga lebih cocok untuk pengamatan menggunakan teleskop atau teropong.
Penampakan komet Lemmon akan terlihat mulai 12 Oktober 2025, sekitar 90 menit setelah Matahari terbenam, di langit bagian barat laut. Pada 16 Oktober, komet ini akan berada dekat bintang Cor Caroli di rasi Canes Venatici, dan bergerak sekitar 4 derajat per hari. Lalu, pada 22 Oktober malam, posisi komet akan berada sekitar 10 derajat dari konstelasi Bootes.
Dengan posisi dan waktu yang telah diprediksi, peluang untuk mengamati keindahan komet Lemmon cukup besar, terutama bagi para penggemar astronomi yang memiliki alat pengamatan yang memadai. Meskipun warnanya yang redup, fenomena ini tetap menjadi momen menarik untuk disimak di langit Indonesia maupun di belahan dunia lainnya.
(dem/dem)









