Komdigi Perkuat Literasi Digital dengan Kolaborasi 35 Organisasi Besar

Permalink 6 months ago 59

Foto: inet.detik.com

Kolaborasi Nasional Tingkatkan Literasi Digital di Indonesia

Jakarta — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi menginisiasi kerja sama dengan 35 organisasi dan asosiasi masyarakat sebagai upaya memperkuat literasi digital nasional. Langkah ini diambil untuk menghadapi berbagai tantangan di dunia maya, mulai dari ancaman keamanan, misinformasi, eksploitasi anak, hingga risiko yang muncul dari teknologi baru seperti kecerdasan buatan generatif (AI generatif).

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam upaya edukasi digital karena luasnya cakupan dan cepatnya perkembangan tantangan di ranah digital.

"Edukasi digital tidak akan berhasil jika hanya dijalankan pemerintah. Yang paling dekat dengan masyarakat adalah komunitas. Ini bukan sekadar kepercayaan, ini penugasan," ujar Meutya pada acara penandatanganan nota kesepahaman di Jakarta.

Indonesia kini memiliki lebih dari 220 juta pengguna internet, dengan sekitar 60% di antaranya adalah anak muda yang merupakan kelompok paling aktif sekaligus rentan terhadap berbagai kejahatan digital. Ancaman yang sering terjadi antara lain eksploitasi seksual online, perundungan siber, judi online, hingga manipulasi informasi yang dapat menyesatkan.

Menkomdigi Meutya Hafid
Menkomdigi Meutya Hafid

Meski Komdigi telah menurunkan lebih dari 3 juta konten negatif, pertumbuhan konten berbahaya masih berlangsung dengan sangat cepat. Oleh karena itu, keterlibatan komunitas dan organisasi sangat penting agar edukasi dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat secara efektif.

"Hanya dengan itu, ujung akhirnya akan berhasil. Karena kalau pendekatan hanya sekali lagi melalui teknologi, kita tidak akan menuju kepada ekosistem yang lebih baik," tambah Meutya.

Bonifasius Wahyu Pujianto, Direktur Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komunikasi dan Digital, menjelaskan bahwa perubahan di ruang digital sangat cepat dan membuat regulasi selalu tertinggal. Oleh karena itu, pendekatan co-creation bersama pemerintah, komunitas, akademisi, dan sektor industri menjadi strategi penting dalam menyusun modul literasi digital yang dinamis dan responsif.

"MOU dengan 35 organisasi ini bukan sekadar seremoni, tetapi sebuah kesepakatan operasional yang berlaku selama tiga tahun ke depan," jelas Bonifasius. Ia menambahkan bahwa kerja sama ini akan terus diperbarui untuk menguatkan keamanan digital, melawan hoaks, judi online, dan mempersiapkan masyarakat menghadapi risiko AI serta deepfake.

Direktur BPSDM Komunikasi dan Digital, Bonifasius Wahyu Pujianto
Direktur BPSDM Komunikasi dan Digital, Bonifasius Wahyu Pujianto

Dalam dua bulan pertama pelaksanaan kerja sama ini, Komdigi menargetkan seluruh organisasi mitra menyelenggarakan pelatihan literasi digital, edukasi keamanan akun dan privasi, kampanye anti-hoaks dan anti-judi online, serta pendampingan penggunaan internet aman bagi anak dan remaja. Dukungannya juga diperluas dengan pelatihan untuk guru, ibu rumah tangga, mahasiswa, dan kelompok rentan lainnya.

Menkomdigi Meutya menegaskan metode komunitas sangat efektif karena mereka memiliki keunggulan jangkauan hingga ke daerah pelosok, penggunaan bahasa lokal, pendekatan budaya yang relevan, serta metode peer-to-peer yang dekat dengan anak muda.

"Gerakan literasi paling efektif terjadi saat pesan disampaikan oleh orang-orang terdekat dan sesuai kehidupan masyarakat," ucap Meutya.

Lebih jauh, Meutya mengajak semua pihak untuk bergerak cepat agar transformasi digital Indonesia dapat berjalan beriringan dengan literasi digital kuat demi masa depan generasi digital bangsa yang lebih aman dan cerdas.

"Ini saat yang tepat sebelum terlambat. Mari bergerak cepat bersama untuk menyelamatkan generasi digital Indonesia," tutupnya.

Daftar 35 Organisasi Mitra Komdigi

  1. Kemendukbangga
  2. Pemprov Gorontalo
  3. Huawei Indonesia
  4. Tiktok Pte. Ltd
  5. PT Educa Sisfomedia Indonesia (Gamelab)
  6. Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA)
  7. Digital Momi Indonesia (DIGIMOM)
  8. Fatayat Nadhlatul Ulama (FATAYAT NU)
  9. Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI)
  10. Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI)
  11. Sarinah DPP Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)
  12. Gerakan Pemuda Ansor (GP ANSOR)
  13. Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi (GNLD Siberkreasi)
  14. Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMABUDHI)
  15. Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (HIMIPERSIS)
  16. Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI)
  17. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMMAWATI)
  18. Ikatan Pelajar Putri Nadhlatul Ulama (IPPNU)
  19. Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)
  20. Korps HMI-WATI PB Himpunan Mahasiswa Islam (KOHATI PB HMI)
  21. Kumpulan Emak Blogger (KEB)
  22. Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII)
  23. Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND)
  24. Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO)
  25. Muslimat Nadhlatul Ulama (MUSLIMAT NU)
  26. Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (PB KOPRI)
  27. Perkumpulan Mitra Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia
  28. Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI)
  29. Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII)
  30. Relawan TIK (RTIK)
  31. Yayasan Dunia Informasi Digital
  32. Himpunan Mahasiswa Persatuan Indonesia (HIMAPERSIS)
  33. Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI)
  34. Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI)
  35. ID Cop