Jakarta – Insiden serius terjadi di pabrik Tesla di Fremont, California, ketika seorang teknisi, Peter Hinterdobler, mengalami luka parah akibat serangan robot yang tiba-tiba bergerak tanpa kendali saat sedang dibongkar. Kasus ini kini berujung pada gugatan senilai USD 51 juta yang dia ajukan ke perusahaan milik Elon Musk tersebut.
Kejadian berawal saat Peter membantu seorang insinyur melepaskan motor di dasar robot yang dipindahkan dari jalur produksi Model 3. Tanpa peringatan, lengan robot meluncur dengan kekuatan sangat kuat, menghantam lengan Hinterdobler dan melemparkannya ke lantai hingga pingsan. Gugatan yang diajukan menyebut insiden itu menyebabkan cedera serius, sementara biaya pengobatan yang telah dikeluarkan mencapai USD 1 juta dan estimasi biaya masa depan bisa menambah hingga USD 6 juta lagi.
"Saat insinyur coba melepas motor di dasar robot, lengan robot tiba-tiba dan tanpa peringatan terlepas dengan kekuatan yang sangat besar," ungkap dokumen gugatan yang dikutip dari Independent.
Peristiwa ini bukan kasus pertama yang melibatkan robot di lingkungan kerja Tesla. Pada 2021, seorang insinyur di Gigafactory Texas juga mengalami kecelakaan setelah robot menancapkan cakarnya ke punggung dan lengannya sehingga menyebabkan dia terjepit di dinding. Beruntung, insinyur itu berhasil menyelamatkan diri ketika rekan kerjanya menekan tombol henti darurat, meskipun kemudian terjatuh ke saluran pembuangan besi tua.
Kecelakaan robotik tidak hanya masalah baru di Tesla, karena sejak 1979 telah ada catatan insiden fatal pertama di fasilitas Ford, Michigan. Dengan semakin meluasnya penggunaan robot dalam manufaktur, kecelakaan dan cedera yang melibatkan mesin otomatis pun dilaporkan meningkat.
Kasus Peter Hinterdobler kini menjadi sorotan atas pentingnya standar keselamatan yang ketat dalam penggunaan robot di lini produksi agar kejadian serupa tidak terulang dan perlindungan maksimal bagi para pekerja tetap terjaga.
(fyk/rns)









