India Dorong Produk Lokal, Boikot Bertahap Aplikasi dan Layanan Amerika

Permalink 8 months ago 73

Foto: www.cnbcindonesia.com

Jakarta, Naralapor – Pemerintah India memperlihatkan langkah tegas untuk mengurangi ketergantungan pada produk dan layanan asal Amerika Serikat. Seiring meningkatnya ketegangan ekonomi dan politis antara India dan AS, upaya untuk memakai aplikasi serta software hasil karya lokal semakin gencar dilakukan.

Salah satu inisiatif nyata terlihat dari Menteri Teknologi Informasi Ashwini Vaishnaw yang secara konsisten memakai aplikasi dalam negeri untuk kebutuhan dinasnya. Dalam sebuah presentasi terkait program jalan raya, Vaishnaw menggunakan Zoho, sebuah aplikasi buatan India, menggantikan Microsoft PowerPoint.

"Peta ini dari MapmyIndia, bukan Google Maps. Bagus, kan? Swadeshi," ujar Vaishnaw saat memperlihatkan peta yang digunakan dalam presentasinya.

Langkah serupa dilakukan dalam pengujian Zoho yang direkam Vaishnaw agar publik lebih mengenal aplikasi buatan dalam negeri tersebut. Zoho sendiri dikenal menawarkan layanan dengan harga lebih terjangkau dibandingkan produk dari raksasa teknologi asing seperti Microsoft.

Perusahaan Zoho didirikan oleh Sridhar Vembu, seorang miliarder yang unik dengan pendekatan tidak biasa yakni mengelola operasional bisnis dari desa-desa di India, yang sekaligus sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Selain Zoho, layanan chat bernama Arattai juga semakin naik daun. Arattai merupakan aplikasi pesan yang dikembangkan dan dipromosikan oleh pejabat senior India, termasuk Menteri Perdagangan Piyush Goyal dan Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan.

Data dari Sensor Tower menunjukkan lonjakan besar jumlah unduhan Arattai, dari kurang dari 10 ribu pada Agustus menjadi lebih dari 400 ribu pada bulan berikutnya. Bahkan pengguna aktif harian sempat menyentuh angka 100 ribu pada 26 September, dua kali lipat dari hari sebelumnya.

Menteri Goyal pun menyatakan kebanggaannya terhadap Arattai melalui akun media sosialnya, "Sangat bangga di @Arattai, platform pesan #MadeInIndia yang mendekatkan India."

Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya Perdana Menteri Narendra Modi yang mengajak warga India mendukung produk swadeshi — produk buatan dalam negeri — sebagai respons atas kebijakan tarif impor sebesar 50% yang diberlakukan oleh pemerintahan Donald Trump sebelumnya.

Langkah serius India meninggalkan beberapa layanan dan produk Amerika bisa jadi merupakan sinyal pergantian arah teknologi dan perdagangan yang berdampak luas. Fokus pada kemandirian teknologi dalam negeri juga diyakini dapat memperkuat ekonomi dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor digital dan teknologi informasi.