Ilmuwan Bangkitkan Mikroba 40.000 Tahun dari Es Permafrost, Memicu Kekhawatiran Iklim

Permalink 8 months ago 68

Foto: inet.detik.com

Jakarta – Sebuah tim ilmuwan dari Universitas Colorado Boulder berhasil menghidupkan kembali mikroba yang tertidur selama 40.000 tahun dalam lapisan es beku atau permafrost di Alaska. Penemuan ini bukan hanya keajaiban dalam dunia biologi, tetapi juga membawa pertanyaan serius mengenai dampak organisme purba terhadap perubahan iklim.

Mikroba kuno tersebut ditemukan di Permafrost Tunnel Research Facility, fasilitas penelitian bawah tanah yang terletak di Fairbanks, Alaska. Terowongan ini menembus lapisan tanah beku yang menyimpan berbagai artefak purbakala, termasuk fosil mammoth dan bison. Tristan Caro, peneliti utama, menggambarkan pengalaman mengunjungi terowongan itu dengan mengatakan, "Saat pertama kali masuk ke sana, bau busuknya sangat kuat — seperti ruang bawah tanah yang tertutup terlalu lama. Bagi ahli mikrobiologi, bau itu menandakan adanya aktivitas mikroba."

Setelah mengambil sampel dinding tanah berusia puluhan ribu tahun, para peneliti mencairkannya perlahan di laboratorium pada suhu antara 4 hingga 12 °C. Dalam beberapa bulan, mikroba tersebut mulai hidup kembali dan berhasil membentuk koloni yang bahkan bisa dilihat dengan mata telanjang. Caro menegaskan, "Ini bukan sampel mati. Sampel-sampel ini masih menampung kehidupan yang mampu menguraikan bahan organik dan melepaskan karbon dioksida."

Namun, kebangkitan mikroba purba ini menimbulkan kekhawatiran serius terkait iklim Bumi. Saat permafrost mencair akibat pemanasan global, mikroba mulai memecah bahan organik yang terperangkap, melepaskan gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan metana. Hal ini dapat mempercepat laju perubahan iklim yang sudah berlangsung. Sebastian Kopf, profesor geologi di CU Boulder, menyatakan, "Ini salah satu ketidakpastian terbesar dalam respons iklim. Kita belum tahu seberapa besar dampaknya ketika semua lapisan tanah beku di Kutub Utara mencair."

Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa gelombang panas singkat tidak serta-merta membangkitkan mikroba. Namun, perpanjangan musim panas di Arktik menyebabkan mikroba aktif lebih lama, yang bisa berkontribusi besar terhadap pelepasan gas rumah kaca. Caro menambahkan, "Yang berbahaya bukan satu hari panas, melainkan musim panas yang terus berlanjut hingga musim gugur."

Tim sejauh ini baru meneliti sebagian kecil dari permafrost dunia. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, termasuk potensi kebangkitan mikroba dari Rusia dan Kanada serta kemungkinan virus purba kembali aktif. "Ada begitu banyak lapisan es di dunia ini—dan kami baru menyentuh permukaannya," tutup Caro, menggambarkan luasnya tantangan yang dihadapi.

(afr/afr)