Ilmuwan AI Ungkap Ancaman Besar di Balik Janji Manis CEO Teknologi, Karyawan Wajib Waspada

Permalink 9 months ago 69

Foto: www.cnbcindonesia.com

Jakarta, Naralapor – Geffrey Hinton, ilmuwan yang dijuluki sebagai bapak kecerdasan buatan (AI) dan pemenang Nobel, mengungkap sisi gelap dari perkembangan teknologi AI yang kian pesat. Meski banyak CEO perusahaan teknologi menjanjikan masa depan cerah dengan adanya AI, Hinton justru memperingatkan bahwa dampaknya tidak sesederhana itu, khususnya bagi dunia ketenagakerjaan.

Hinton dikenal luas sebagai pencipta teknologi neural network yang menjadi pondasi utama dalam pengembangan kemampuan AI modern. Namun, di balik kemajuan ini, ia mengkritik CEO-CEO besar yang sering menyampaikan janji manis soal manfaat AI untuk semua orang, tanpa melihat sisi risiko yang mengintai.

PHK Massal Bakal Terjadi, Karyawan Harus Bersiap

“Apa yang akan terjadi adalah orang kaya menggunakan AI daripada membayar karyawan,” kata Hinton dalam wawancara eksklusif dengan Financial Times yang dikutip oleh Futurism. Pernyataan ini menggarisbawahi potensi gelombang pengangguran besar akibat AI menggantikan pekerjaan manusia dalam berbagai sektor.

“Akan tercipta pengangguran besar-besaran dan profit perusahaan melonjak. Kekayaan beberapa orang bakal naik pesat, tetapi kebanyakan orang bakal makin miskin. Bukan salah AI. Ini akibat sistem kapitalis,” tegasnya.

Dampak Nyata Sudah Terlihat

Hinton meyakini dampak AI terhadap lapangan pekerjaan sudah mulai terasa, ditandai dengan pengumuman pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran di banyak perusahaan teknologi dunia.

Meski demikian, menurutnya keuntungan perusahaan (laba) akibat pengintegrasian AI ke bisnis belum menunjukkan kenaikan yang signifikan secara luas.

Contohnya, perusahaan seperti Google yang dulu dipimpinnya melalui Google Brain, kini semakin mengandalkan AI untuk automasi dan efisiensi kerja. Namun, ada sisi lain di mana pekerja manusia semakin tergantikan dan kehilangan peran.

Universal Basic Income: Solusi atau Hanya Tampilan?

Sam Altman, CEO OpenAI yang mengembangkan ChatGPT, pernah menyarankan penerapan upah minimum universal atau universal basic income sebagai opsi untuk meredam dampak PHK akibat kemajuan AI.

Tapi Hinton melihat bahwa pendekatan tersebut belum cukup memadai. Menurutnya, solusi finansial saja tidak bisa mengembalikan martabat dan tujuan hidup manusia yang tergeser oleh dominasi teknologi. Hal ini mengingatkan kita bahwa tantangan AI lebih dari sekadar persoalan ekonomi, namun juga soal makna dan peran manusia di dunia yang kian otomatis.

Kecerdasan Super AI: Realita Dekat di Mata

Geoffrey Hinton memberikan prediksi yang cukup menakutkan, yaitu AI akan mencapai tingkat kecerdasan super atau super intelligence—level yang melampaui manusia paling pintar—dalam waktu maksimal 20 tahun ke depan.

“Kebanyakan ilmuwan sepakat antara 5 dan 20 tahun. Itu tebakan terbaik,” ucapnya.

Ia meyakini bahwa pencapaian teknologi ini tidak dapat dihindarkan. AI akan melampaui kemampuan intelektual manusia secara menyeluruh dalam waktu dekat.

Generasi Muda Harus Realistis, Tidak Perlu Berpura-Pura Bahagia

Hinton mengimbau agar generasi muda tidak sekadar bersikap positif dan optimis buta terhadap kemajuan AI, melainkan harus realistis dan siap menghadapi tantangan yang mungkin timbul.

“Jika ada alien yang diperkirakan tiba 10 tahun lagi, apakah semua akan bilang ‘mari tetap’ positif? Tidak,” ujar Hinton. “Jika tetap positif berarti berpura-pura tidak ada yang terjadi, saya rasa tidak benar jika ‘tetap positif.’”

Pesan ini menarik sebagai pengingat agar masyarakat, khususnya para pekerja muda, tidak menutup mata terhadap risiko signifikan yang bisa menimpa kehidupan dan karier mereka akibat perkembangan teknologi yang begitu cepat dan radikal.

Kesimpulan

Di tengah gegap gempita pembangunan teknologi AI yang menawarkan kemudahan dan solusi canggih, penting bagi kita untuk juga membuka mata terhadap ancaman riil yang dibawa. Seperti yang diingatkan langsung oleh salah satu pionir AI terbesar di dunia, Geffrey Hinton, teknologi ini berpotensi menggusur peran manusia dan memperburuk ketimpangan sosial jika tidak ditangani dengan kebijakan yang bijak.

Para pekerja dan generasi muda diimbau untuk tetap waspada dan realistis, mempersiapkan diri menghadapi perubahan besar yang akan datang, serta turut aktif mencari solusi agar dampak negatif AI bisa diminimalisasi.

(dem/dem)