Harga Chip Memori Samsung Melonjak Hingga 60% karena Lonjakan Permintaan AI

Permalink 6 months ago 62

Foto: inet.detik.com

Jakarta – Pasar chip memori global sedang mengalami gejolak besar dengan kenaikan harga yang sangat signifikan, yang sebagian besar disebabkan oleh ledakan penggunaan kecerdasan buatan (AI). Samsung Electronics, raksasa teknologi asal Korea Selatan, dilaporkan menaikkan harga chip memorinya hingga 60% dibandingkan dengan bulan September lalu.

Dua sumber terdekat yang mengetahui situasi ini menyampaikan bahwa kenaikan harga ini berlaku untuk bulan November dan mengikuti kelangkaan pasokan chip memori DDR5 yang kini makin terasa di pasar.

Peningkatan harga ini pun langsung berimbas positif pada harga saham Samsung, SK Hynix, dan produsen chip asal Amerika Serikat, yang semuanya mengalami lonjakan signifikan. Pasar menunjukkan bahwa tren AI tidak hanya meningkatkan permintaan chip khusus AI, tetapi juga membuat kebutuhan akan chip memori server seperti DDR5 menjadi tinggi.

Dikutip dari laporan Reuters, Samsung menunda pengumuman harga kontrak untuk Oktober—yang biasanya tersedia setiap bulan—dan baru mengumumkan harga baru yang lebih tinggi di bulan November. Situasi ini menunjukkan betapa sulitnya pasokan chip memenuhi permintaan yang melonjak tajam.

Presiden distributor semikonduktor Fusion Worldwide, Tobey Gonnerman, mengatakan bahwa banyak pembuat server besar kini menghadapi kenyataan pahit karena tidak bisa mendapatkan pasokan memori sesuai kebutuhan mereka. "Banyak produsen server dan data center kini sudah memahami kalau mereka tak akan bisa mendapat pasokan yang mencukupi. Harga tinggi yang dibayar sangat ekstrem," ujarnya.

Data harga kontrak menunjukkan modul DDR5 32GB dari Samsung melonjak ke USD 239 pada November, naik tajam dari USD 149 pada September. Modul DDR5 16GB dan 128GB juga naik sekitar 50%, masing-masing menjadi USD 135 dan USD 1.194, sementara varian 64GB dan 96GB naik lebih dari 30%.

Kenaikan harga ini tentu menambah beban bagi perusahaan yang memperluas infrastruktur pusat data (data center). Selain itu, biaya produksi alat elektronik seperti smartphone dan komputer turut berpotensi naik.

Kelangkaan chip memori global memicu fenomena panic buying, menimbulkan permintaan mendadak yang semakin memperburuk kondisi pasokan. SMIC, produsen chip kontrak terbesar China, bahkan melaporkan bahwa klien-kliennya menunda pesanan chip lain karena khawatir kelangkaan memori berlangsung lama. Sementara itu, Xiaomi mengungkapkan bahwa kenaikan harga memori juga telah menyebabkan naiknya biaya produksi smartphone mereka.

Untuk menanggapi kebutuhan jangka menengah dan panjang akibat permintaan AI, Samsung berencana memperkuat kapasitas produksinya dengan membangun lini produksi chip baru di Korea Selatan.

Analis dari KB Securities, Jeff Kim, menilai keunggulan Samsung yang lambat beralih ke chip AI justru membuat mereka memiliki posisi tawar harga lebih tinggi dibanding kompetitornya seperti SK Hynix dan Micron. Prediksi dari Ellie Wang, analis di TrendForce, bahkan menyebut Samsung bisa menaikkan harga kontrak kuartalan sebesar 40% hingga 50% pada kuartal IV 2024, lebih tinggi dibanding rata-rata naik harga di industri yang diperkirakan sekitar 30%.

"Mereka sangat yakin bahwa harga akan terus meningkat karena permintaan saat ini sangat kuat," ujar Wang, dan menambahkan bahwa banyak pelanggan sudah menegosiasikan kontrak jangka panjang untuk periode 2026 hingga 2027.

Dengan permintaan AI yang terus meningkat, kenaikan harga chip memori sepertinya bakal terus berlanjut untuk waktu yang lama. Para pelaku industri yang mengandalkan infrastruktur komputasi besar wajib bersiap menghadapi tekanan biaya yang tidak ringan ke depan.

(asj/asj)