Gurun Sahara Bakal Lebih Basah di Akhir Abad Ini, Ilmuwan Anggap Ini Tanda Perubahan Dramatis Iklim

Permalink 7 months ago 64

Foto: www.cnbcindonesia.com

Jakarta, Naralapor - Gurun Sahara, yang selama ini dikenal sebagai gurun terluas dan terik di dunia, diprediksi akan mengalami perubahan signifikan dengan meningkatnya curah hujan di musim panas pada akhir abad ini. Kondisi ini disampaikan dalam sebuah riset oleh University of Illinois Chicago (UIC) yang menunjukkan bahwa gurun ini bisa menerima hujan hingga 75% lebih banyak dibanding saat ini.

Penelitian yang dipimpin oleh Thierry Ndetatsin Taguela ini mengkaji data dari 40 model iklim global, membandingkan periode tahun 2050-2099 dengan 1965-2014. Hasilnya mengungkapkan bahwa Sahara dan sebagian wilayah Afrika Utara, Timur, serta Tengah akan mengalami pertambahan curah hujan yang cukup drastis.

"Meskipun peningkatan ini besar secara persentase, Sahara tetap tidak akan bertransformasi menjadi hutan hujan, karena saat ini curah hujan di sana hanya sekitar 7,6 cm per tahun. Kenaikan 75% berarti sekitar 13 cm, yang masih jauh dari cukup untuk menjadi ekosistem subur," jelas Taguela.

Fenomena ini terkait dengan efek Clausius-Clapeyron, di mana udara yang lebih hangat menyimpan lebih banyak uap air, sehingga meningkatkan kemungkinan hujan ketika badai terbentuk. Udara hangat yang mengandung kelembapan lebih tinggi ini akan berdampak signifikan di wilayah yang memiliki sirkulasi udara laut aktif dan musim hujan yang konsisten.

Di sisi lain, beberapa wilayah Afrika lain akan mengalami perubahan yang berbeda. Afrika Tenggara dan Afrika Tengah bagian selatan diperkirakan akan semakin basah, masing-masing dengan peningkatan hujan sebesar 24% dan 17%. Sementara itu, Afrika Barat bagian selatan justru terancam menjadi lebih kering hingga 5%.

Taguela menuturkan bahwa meskipun penambahan hujan bisa jadi 'berkah' untuk wilayah yang kering, perlakuan terhadap air tersebut harus hati-hati karena tanah gurun cenderung keras dan sulit menyerap air, sehingga risiko banjir bandang meningkat. Perubahan waktu musim hujan juga bisa mengganggu aktivitas pertanian, pasokan air kota, dan produksi energi dari pembangkit listrik tenaga air.

"Kita perlu segera mempersiapkan diri dengan pengelolaan banjir yang tepat dan mengembangkan tanaman yang tahan terhadap kondisi kekeringan," tambah Taguela.

Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai tanda ekstrem perubahan iklim global yang membuat pola cuaca dan ekosistem di Bumi berubah secara drastis, menunjukan bahwa iklim dunia sedang keluar dari keseimbangan yang sudah berlangsung ribuan tahun.

(fab/fab)