Jakarta – Malam tanggal 7 hingga 8 September 2023 nanti, langit di wilayah Australia, Asia, Afrika, dan sebagian Eropa akan disambut oleh sebuah fenomena astronomi yang menakjubkan: Gerhana Bulan Total yang dikenal sebagai 'Blood Moon'.
Fenomena kali ini istimewa karena durasi totalitasnya mencapai 82 menit, menjadikannya gerhana Bulan total terlama sejak 2022. Total durasi gerhana yang berlangsung sekitar lima jam ini memperlihatkan Bulan purnama bergerak melalui bayangan Bumi secara perlahan, dan saat berada sepenuhnya dalam bayangan inti Bumi atau umbra, permukaan Bulan akan berubah warna menjadi merah tembaga yang khas, yang membuatnya mendapat julukan 'Bulan Berdarah'.
Berbeda dengan Gerhana Matahari Total yang hanya bisa diamati dari jalur yang sangat sempit, gerhana Bulan total ini dapat disaksikan langsung dengan mata telanjang dari hampir seluruh area malam di Bumi. Namun, sayangnya penduduk Amerika Utara tidak akan melihat fenomena ini karena gerhana terjadi saat tergantinya siang hari.
Berdasarkan catatan, sekitar 5,8 miliar orang di dunia atau sekitar 71% populasi global dapat menikmati pemandangan gerhana ini. Beberapa kota pertama yang menyaksikan totalitas gerhana ini antara lain Sydney, Melbourne, dan Perth di Australia, serta Tokyo dan Seoul di Asia Timur. Sementara tahap terakhir gerhana bisa dinikmati ketika Bulan muncul di ufuk oleh kota-kota seperti Moskow, Ankara, dan Bukares.
Bagi pengamat di Indonesia, menurut Observatorium Bosscha, mulai pukul 22.28 WIB tanggal 7 September hingga pukul 03.55 WIB tanggal 8 September, warga dapat menikmati tahapan gerhana ini dengan jelas, cukup dengan mata telanjang tanpa perlu alat bantu khusus, asalkan cuaca cerah.
Berikut adalah jadwal lengkap fase gerhana di Indonesia:
- 22.28 WIB: Awal fase penumbra (Bayangan luar Bumi mulai menutupi Bulan)
- 23.35 WIB: Awal fase sebagian (Bayangan inti Bumi mulai menyelimuti Bulan)
- 01.11 WIB: Awal totalitas (Bulan sepenuhnya tertutup bayangan inti Bumi)
- 02.33 WIB: Akhir totalitas
- 03.39 WIB: Akhir fase sebagian
- 03.55 WIB: Gerhana selesai, Bulan kembali ke fase normal
Untuk meningkatkan pengalaman mengamati, menggunakan teleskop atau teropong bintang bisa membantu melihat detail permukaan Bulan dan bayangan Bumi dengan lebih jelas, meski pengamatan tanpa alat pun sudah cukup memukau. Ini menjadi kesempatan besar bagi para pecinta astronomi dan masyarakat umum untuk menyaksikan keindahan alam semesta secara langsung.
Jangan lewatkan kesempatan langka ini untuk menikmati 'Bulan Berdarah' yang akan mewarnai langit malam kita!
(rns/afr)









