Jakarta, Naralapor – Baru-baru ini sebuah video viral memperlihatkan langit yang berwarna merah menyala di siang hari di Aceh. Banyak warganet yang beranggapan ini sebagai tanda bahwa Matahari sedang jatuh. Namun, klaim tersebut dibantah secara ilmiah oleh seorang pakar fisika.
Guru Besar Fisika Teori dari IPB University, Husin Alatas, dengan tegas mengklarifikasi bahwa Matahari tidak mungkin jatuh ke Bumi. "Matahari adalah bintang dengan volume 1,3 juta kali bumi dan radius 110 kali radius bumi. Jaraknya sekitar 150 juta kilometer dari bumi. Jadi, mustahil matahari jatuh ke bumi," ujarnya.
Husin menjelaskan bahwa warna langit yang kita lihat sebenarnya dipengaruhi oleh proses hamburan cahaya di atmosfer bumi. Warna biru langit biasanya terjadi karena hamburan cahaya oleh molekul udara yang ukurannya sangat kecil, proses yang dikenal sebagai hamburan Rayleigh. Pada hamburan ini, cahaya dengan panjang gelombang kecil seperti biru tersebar lebih banyak dibandingkan warna merah.
Namun, pada saat Matahari berada dekat horizon saat terbit atau terbenam, cahaya harus melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal. Akibatnya, warna merah dan jingga menjadi lebih dominan karena cahaya biru sudah banyak tersebar atau hilang, sehingga langit tampak hangat berwarna jingga atau merah.
Tidak hanya itu, ada juga hamburan Mie yang terjadi ketika partikel-partikel berukuran lebih besar seperti partikel aerosol, debu, atau tetesan air berada di udara. Hamburan Mie menyebabkan cahaya tersebar merata untuk semua panjang gelombang, sehingga awan biasanya terlihat putih walaupun langit biru.
Menurut Husin, kondisi langit merah di siang hari yang terlihat dalam video viral itu disebabkan oleh atmosfer yang mengandung konsentrasi tinggi partikel aerosol atau debu halus, yang bisa berasal dari polusi, asap kebakaran, atau debu vulkanik. Partikel-partikel tersebut menyerap warna biru dan ungu, sekaligus memantulkan warna merah dan jingga, sehingga langit tampak merah meskipun Matahari masih tinggi di langit.
Dengan penjelasan ini, fenomena langit merah tersebut dapat dipahami sebagai fenomena alamiah yang terkait dengan kondisi atmosfer dan bukan pertanda alam yang aneh atau berhubungan dengan jatuhnya Matahari.
Penulis: redaksi Naralapor









