Fenomena Hujan Sebulan Turun Sehari di Bali: Penjelasan dari Ahli Klimatologi

Permalink 9 months ago 66

Foto: www.cnbcindonesia.com

Jakarta, Naralapor – Bali baru-baru ini mengalami kejadian cuaca ekstrem yang membuat banyak warga terkejut. Pada tanggal 9 September 2025, curah hujan di pulau dewata ini turun dengan intensitas yang tidak biasa, bahkan mencapai volume setara dengan curah hujan rata-rata sebulan penuh yang turun hanya dalam satu hari saja. Fenomena ini memicu banjir di berbagai wilayah seperti Denpasar, Gianyar, dan Jembrana.

Kepala Pokja Analisa dan Prakiraan Stasiun Klimatologi Bali, I Made Dwi Wiratmaja, memberikan penjelasan mengapa hujan terbilang sangat luar biasa pada hari tersebut. "Ibaratnya curah hujan sebulan turun dalam satu hari, sehingga dampaknya luar biasa," ujarnya saat dihubungi melalui pesan singkat pada Kamis 11 September 2025.

Pada awal bulan September, cuaca di Bali relatif cerah berawan. Hujan mulai turun secara ringan hingga sedang pada tanggal 8 September di sebagian besar wilayah Pulau Bali, terutama bagian tengah, barat, dan timur. Namun puncaknya terjadi keesokan harinya ketika hujan mengguyur tanpa henti dengan intensitas mulai dari ringan hingga sangat lebat.

Hujan deras yang berlangsung sepanjang hari tersebut mencapai puncaknya pada malam hingga dini hari. Kondisi ini menyebabkan banjir yang cukup parah di sejumlah lokasi, seperti di kota Denpasar, Kabupaten Gianyar, dan Jembrana, sehingga aktivitas masyarakat dan aktivitas umum sempat terganggu.

Berdasarkan data pengamatan, curah hujan yang tercatat di beberapa titik bahkan mencapai lebih dari 300 milimeter dalam sehari. Khusus di Jembrana, curah hujan dilaporkan mencapai 385,5 mm, angka yang benar-benar diluar kebiasaan.

I Made Dwi menjelaskan lebih lanjut, bahwa rata-rata curah hujan di Jembrana selama bulan September biasanya hanya sekitar 95 mm per bulan. Artinya, hujan yang turun pada tanggal 9 September jauh melampaui batas normal curah hujan bulanannya, bahkan menjadi yang tertinggi sejak tahun 1990.

"Sebagai perbandingan, rata-rata curah hujan di bulan September itu 95mm/bulan (musim kemarau), sedangkan rata-rata curah hujan di bulan Januari (puncak musim hujan) sekitar 290mm/bulan, jadi curah hujan 385,5mm/hari itu luar biasa deras," lanjut I Made.

Kejadian ini menjadi bukti betapa cuaca dan iklim di Bali masih bisa memberikan kejutan, bahkan di luar pola musim yang biasa dialami. Hal ini juga menunjukkan bahwa perubahan kondisi atmosfer secara regional dapat memicu hujan ekstrem yang menimbulkan dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat serta ekosistem di sekitarnya.

Saat ini, kondisi cuaca di Bali mulai kembali berangsur-angsur membaik. Pada tanggal 11 September 2025, cuaca terpantau berawan. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) masih memperingatkan bahwa potensi hujan masih ada, terutama di wilayah bagian tengah, barat, dan timur Bali. Masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca dan potensi banjir susulan yang mungkin terjadi.

Fenomena cuaca ekstrem ini kembali menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan dan informasi yang cepat, agar dampak bencana alam dapat diminimalisir sebaik mungkin. Selain itu, data curah hujan dan kondisi iklim juga menjadi bahan evaluasi dalam upaya mitigasi bencana dan perencanaan pembangunan berkelanjutan di Bali.

Dengan pemahaman dari para ahli dan dukungan teknologi meteorologi yang terus berkembang, diharapkan masyarakat Bali dapat menyesuaikan diri dengan dinamika iklim yang semakin variatif ini.