Drone Misterius Terbang di Udara Eropa, Denmark Menyebut Ini Serangan Profesional
Beberapa negara Eropa tengah menghadapi kegelisahan akibat penampakan sejumlah drone misterius yang masuk ke wilayah udara mereka. Denmark menjadi sorotan setelah bandara Aalborg ditutup sementara akibat kemunculan drone tak berawak yang tidak diketahui asalnya. Selain Aalborg, penampakan drone juga tercatat di bandara Esbjerg, Sonderborg, dan Skrydstrup.
Sebelumnya, insiden serupa juga terjadi di bandara Kopenhagen yang membuat penerbangan ditangguhkan sementara. Menteri Pertahanan Denmark, Troels Lund Poulsen, menilai kejadian ini bukan tindakan kebetulan atau insiden terpisah. "Ini jelas bukan kebetulan. Ini terlihat sistematis. Inilah yang saya definisikan sebagai serangan hibrida," ujarnya menegaskan bahwa pelaku diduga profesional.
Menteri Kehakiman, Peter Hummelgaard, menambahkan bahwa mereka tidak menutup kemungkinan siapa pun bisa bertanggung jawab atas serangkaian insiden ini. Mereka pun belum mengonfirmasi keterlibatan Rusia, namun selama sebulan terakhir drone asal Rusia diketahui telah melanggar wilayah udara beberapa negara lain seperti Polandia, Rumania, bahkan kemungkinan di Belanda, Finlandia, dan Denmark.
Menanggapi pelanggaran wilayah udara Polandia oleh drone Rusia awal September lalu, Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, mengatakan NATO meluncurkan operasi guna meningkatkan perlindungan di sisi timur aliansi.
Sementara itu Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menuduh bahwa armada kapal tanker minyak Rusia yang sering beroperasi secara tersembunyi digunakan untuk meluncurkan dan mengendalikan drone ini di atas kota-kota Eropa. Ia menegaskan kebutuhan untuk menutup akses Laut Baltik dan perairan lain bagi "armada bayangan" kapal tanker Rusia tersebut.
Armada bayangan ini terdiri dari ratusan kapal tanker tua yang biasanya tidak diasuransikan, jarang dirawat, dan beroperasi dengan bendera negara lain sehingga mempersulit regulator dalam menerapkan sanksi. Hal ini semakin memperumit upaya kontrol dan keamanan wilayah perairan dan udara sekitar.
Drone sendiri telah menjadi bagian utama teknologi militer sejak tahun 1970-an, dan kini menjadi alat penting dalam konflik modern, termasuk perang Rusia-Ukraina. Dalam aspek sipil, pemakaian drone terus meluas dengan harga yang semakin terjangkau dan teknologi yang kian maju. Richard Gill, pendiri dan CEO Drone Defence, mengungkapkan, "Drone lebih mudah didapat dan digunakan. Dan harganya pun turun drastis. Orang-orang kini dapat melakukan hal-hal di gudang kebun mereka yang hanya bisa dilakukan dengan kemampuan militer canggih 10 atau 15 tahun yang lalu."
Namun, ancaman drone di area strategis seperti bandara sulit diprediksi. Di perkotaan, membedakan drone militer dengan drone rekreasi warga sipil pun tidak mudah dari kejauhan. Dalam menghadapi ancaman ini, tindakan penembakan drone dengan proyektil kinetik tidaklah sederhana dan berisiko, terutama di area padat penduduk. "Tak mudah mengenai drone dengan proyektil kinetik, jadi Anda harus menembakkan banyak untuk mengenai sasaran. Bahkan jika berhasil mengenai, sebagian besar proyektil akan jatuh setelah ditembakkan. Jadi, saya tak menyarankan menembak di area padat penduduk, kecuali drone tersebut dianggap sebagai sumber ancaman langsung dan berbahaya," kata Savolainen dari Hybrid CoE.
Situasi ini menunjukkan bahwa penggunaan drone sebagai alat serangan atau gangguan di wilayah Eropa semakin meningkat dan menuntut respon keamanan yang lebih adaptif dan cermat, terutama untuk melindungi fasilitas penting seperti bandara dan udara sipil dari risiko yang kian kompleks.









