China Kembangkan Rute Darat Strategis Pengganti Terusan Suez untuk Perdagangan Asia-Eropa

Permalink 9 months ago 81

Foto: inet.detik.com

Jakarta – China tengah membangun alternatif jalur perdagangan darat yang menghubungkan Asia dan Eropa, sebagai upaya strategis menghindari risiko geopolitik dan kendala pada jalur laut tradisional seperti Terusan Suez. Jalur ini melintas melalui kota pegunungan Chongqing, dan berpotensi menjadi poros logistik terpenting di Asia.

Chongqing kini bertindak sebagai titik penghubung yang menghubungkan negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam dan Singapura dengan Eropa, termasuk Jerman dan Polandia, melalui layanan kereta api barang berkecepatan tinggi. Dengan jalur ini, waktu pengiriman dapat dipangkas drastis menjadi hanya 10-20 hari, jauh lebih singkat dibandingkan pengiriman laut yang konvensional. Bahkan sejak peluncuran kereta cepat ASEAN pada 2023, pengiriman dari Hanoi ke Chongqing hanya memakan waktu 5 hari, sehingga barang bisa sampai ke Eropa dalam kurang dari dua minggu.

Tidak hanya lokasi yang strategis, Chongqing juga merupakan pusat produksi utama China, termasuk memproduksi sekitar sepertiga laptop dunia dan menjadi basis utama produksi mobil listrik serta pusat ekspor mobil yang menyumbang seperempat dari total produksi mobil China. Hal ini menambah nilai strategis jalur tersebut sebagai sirkulasi barang manufaktur unggulan ke pasar global.

Dari sisi geopolitik, pengembangan rute ini adalah respons atas ketegangan dengan Amerika Serikat dan sekutu di wilayah Laut Selatan yang menyebabkan China mencari jalur alternatif bebas tekanan Barat. Terlebih, pandemi Covid-19 dan konflik yang terjadi di Ukraina memperlihatkan rapuhnya ketergantungan pada jalur maritim tertentu. Meski perdagangan China dengan Rusia tetap besar, risiko transportasi melalui Rusia dan beberapa selat strategis membuat China mengarahkan perhatian pada Koridor Tengah melalui Kazakhstan dan Laut Kaspia.

Meski prospeknya menjanjikan, jalur darat ini menghadapi tantangan berupa keterlambatan di bea cukai, biaya operasional yang masih tinggi, kondisi infrastruktur yang perlu peningkatan, dan masalah keberlanjutan finansial. Banyak rute yang tergabung dalam Belt and Road Initiative masih bergantung pada subsidi pemerintah untuk menarik eksportir.

Dengan segala potensi dan tantangan tersebut, Chongqing dan Koridor Tengah dapat menjadi gambaran awal bagi China dalam membangun jaringan logistik darat luas yang mengubah peta perdagangan global, membuka alternatif baru yang lebih cepat dan aman antara Asia dan Eropa.