China Diduga Gunakan Email Palsu untuk Bongkar Rahasia Negosiasi Dagang AS

Permalink 9 months ago 64

Foto: www.cnbcindonesia.com

Jakarta, Naralapor – Dalam sebuah langkah intelijen yang cukup tegas, China disebut-sebut mencoba membobol rahasia perdagangan Amerika Serikat (AS) dengan menggunakan email palsu yang menyisipkan malware. Targetnya adalah berbagai kelompok perdagangan, firma hukum, dan lembaga pemerintah AS yang terlibat dalam pembicaraan dagang dengan Beijing.

Menurut laporan Wall Street Journal, email tersebut dikirimkan pada bulan Juli lalu dan dibuat seolah-olah berasal dari John Moolenaar, seorang anggota parlemen dari partai Republik. Email ini berisi permintaan agar penerima meninjau rancangan aturan yang dilampirkan, sebelum pembicaraan perdagangan berlanjut di Swedia. Namun, ketika file dilihat, terdapat malware yang membuka jalur bagi para peretas untuk mengakses data.

Curiga dengan isi email yang membingungkan, pihak Moolenaar kemudian mengonfirmasi keaslian pesan tersebut dan mendapati bahwa email itu palsu. Setelah dianalisis, kejadian ini diduga kuat melibatkan kelompok peretas APT41, yang dikenal memiliki hubungan dengan intelijen China.

Laporan menyebutkan bahwa serangan ini merupakan bagian dari operasi baru China untuk mendapatkan informasi dari lawan perundingannya, khususnya rekomendasi terkait negosiasi dagang antara Gedung Putih dan Beijing. Serangan ini terjadi di tengah gencatan senjata tarif yang disepakati hingga November mendatang.

Menanggapi tuduhan ini, Kedutaan Besar China di Washington menyatakan tidak mengetahui secara rinci soal insiden tersebut dan menolak upaya yang mereka nilai sebagai pencemaran nama baik tanpa bukti kuat. "China menentang dan memerangi segala serangan dan kejahatan siber. Kami juga dengan tegas menentang upaya mencemarkan nama baik tanpa bukti kuat," ujar pernyataan dari pihak kedutaan. Mereka juga menegaskan, serangan siber adalah masalah global yang juga dialami banyak negara lain.

Sementara itu, Kepolisian Capitol AS sedang melakukan penyelidikan terkait email palsu yang digunakan untuk menyebarkan malware ini. Namun, mereka belum memberikan komentar lebih lanjut mengenai kasus tersebut.

Insiden ini kembali menjadi pengingat betapa sengitnya persaingan intelijen dan keamanan siber di antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, terutama di masa dengan negosiasi yang penuh ketegangan dan kepentingan tinggi.

(fab/fab)

Naralapor