Cari Kerja Kantoran Sulit, Tukang Ledeng dan Tukang Listrik Justru Bisa Raup Gaji Hingga Rp 1,6 Miliar

Permalink 8 months ago 97

Foto: www.cnbcindonesia.com

Jakarta, Naralapor – Di tengah gempuran kecerdasan buatan (AI) dan era digital yang kian mendominasi, banyak generasi muda, khususnya Gen Z, merasa sulit mendapatkan pekerjaan kantoran yang diidamkan. Namun, CEO Nvidia Jensen Huang memberikan sudut pandang berbeda: peluang kerja sebenarnya sangat besar di bidang yang selama ini dianggap "tradisional", seperti tukang ledeng, tukang listrik, dan tukang kayu.

"Jika kamu seorang tukang listrik, tukang ledeng, atau tukang kayu, kamu sangat dibutuhkan karena ratusan ribu tenaga diperlukan untuk membangun pabrik dan pusat data, tempat teknologi AI dikembangkan," ujar Huang kepada Channel 4 News.

Huang sendiri adalah salah satu sosok paling berpengaruh di dunia teknologi, dengan kekayaan mencapai US$164 miliar (sekitar Rp 2.715 triliun), sebagian besar diperoleh dari booming teknologi AI dan permintaan chip canggih yang terus meningkat.

Menurut Huang, perkembangan teknologi AI membuat kebutuhan akan fasilitas data center besar-besaran meningkat drastis. Pusat data ini membutuhkan ribuan tenaga terampil untuk konstruksi dan pemeliharaan. Ia menambahkan, "Segmen kerajinan terampil di setiap perekonomian akan mengalami lonjakan. Pertumbuhannya harus berlipat ganda setiap tahunnya."

Investasi Nvidia dalam pengembangan data center sangat besar. Baru-baru ini, mereka mengumumkan investasi US$100 miliar ke OpenAI untuk memperkuat ekosistem AI mereka. McKinsey memperkirakan pengeluaran modal untuk pusat data akan mencapai US$7 triliun pada 2030 nanti.

Bayangkan sebuah data center seluas 250.000 kaki persegi yang dapat menyerap hingga 1.500 pekerja konstruksi selama masa pembangunan, dengan gaji rata-rata mencapai US$100.000 (lebih dari Rp 1,6 miliar) belum termasuk lembur! Menariknya, pekerjaan ini tidak mengharuskan gelar sarjana, membuka peluang besar bagi banyak orang.

Setelah pembangunan selesai, fasilitas tersebut membutuhkan sekitar 50 pekerja penuh waktu untuk operasi dan perawatan, yang juga memicu penciptaan 3,5 lapangan pekerjaan lainnya di sektor terkait.

Hal ini didukung pula oleh CEO BlackRock, Larry Fink, yang pada awal 2025 mengungkapkan kekhawatiran tentang kekurangan teknisi listrik dalam pembangunan data center AI di AS, terutama karena kebijakan deportasi pekerja imigran dan rendahnya minat kaum muda terhadap sektor konstruksi.

Selain itu, CEO Ford Jim Farley juga menyoroti tantangan terbesar adalah ketersediaan tenaga kerja ahli di bidang manufaktur dan konstruksi, bukan sekadar ambisinya.

Patut disayangkan, AS sudah kehilangan 600.000 pekerja pabrik dan 500.000 pekerja konstruksi dalam beberapa tahun terakhir, menambah tekanan pada industri yang tengah tumbuh pesat ini.

Jensen Huang pun menekankan betapa pentingnya disiplin ilmu fisika dan keterampilan teknis yang berhubungan dengan teknologi fisik di era AI, lebih dari sekadar penguasaan software.

Kesimpulannya, berkarier sebagai tukang ledeng, tukang listrik, atau pekerja konstruksi di sektor teknologi ternyata menjanjikan masa depan cerah dengan gaji tinggi, di saat banyak lulusan baru kesulitan menemukan pekerjaan kantoran yang diimpikan.