Jakarta, Naralapor – Fenomena badai Matahari yang menyebabkan gangguan geomagnetik ternyata tidak hanya memukau dengan pemandangan aurora, tapi juga berpengaruh terhadap kesehatan jantung manusia di Bumi. Berbagai penelitian terbaru mengungkap adanya hubungan antara aktivitas Matahari yang meningkat dengan risiko serangan jantung, terutama pada perempuan.
Penelitian yang digelar oleh National Institute for Space Research di Brasil menjadi salah satu bukti paling menonjol. Mereka menganalisa data pasien serangan jantung di kota San Jose dos Campos selama tujuh tahun, dari 1998 hingga 2005, yang merupakan masa puncak aktivitas Matahari dalam satu siklus 11 tahunnya. Data rumah sakit yang berjumlah 1.340 pasien ini kemudian dicocokkan dengan rekam aktivitas geomagnetik di waktu yang sama.
Hasilnya cukup mengejutkan: saat terjadi gangguan geomagnetik, terjadi lonjakan kasus serangan jantung yang masuk rumah sakit, dan juga peningkatan angka kematian akibat kondisi ini. Menariknya, meski serangan jantung secara keseluruhan lebih banyak pada pria, lonjakan akibat gangguan geomagnetik ternyata lebih signifikan pada wanita.
Penelitian itu mencatat bahwa “meskipun jumlah serangan jantung pada perempuan lebih rendah, pada kondisi gangguan geomagnetik, terjadi proporsi yang lebih tinggi,” ungkap laporan penelitian tersebut.
Tidak hanya terkait jumlah kejadian, studi lain di tahun 2018 memperlihatkan gangguan geomagnetik dapat memengaruhi variabilitas detak jantung (Heart Rate Variability/HRV) seseorang, di mana HRV yang tinggi menandakan kesehatan sistem saraf yang baik dan adaptasi yang lebih responsif terhadap lingkungan. Sebaliknya, gangguan geomagnetik yang kuat dapat menurunkan HRV sehingga berpotensi memperburuk kesehatan jantung.
Konfirmasi atas hal ini datang dari penelitian 2023 yang menganalisis data dari 204 wilayah di berbagai bujur Bumi, yang juga menunjukkan korelasi positif antara intensitas gangguan geomagnetik dan kasus penyakit jantung. Bahkan, peneliti Rusia pernah menghubungkan badai geomagnetik dengan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke walaupun temuan mereka didasarkan pada jumlah studi yang masih terbatas.
Meski masih diperlukan penelitian lebih mendalam untuk memperjelas mekanisme dan dampak langsung badai Matahari terhadap kesehatan jantung, hasil studi-studi tersebut sudah membuka pemahaman baru bahwa gangguan lingkungan luar angkasa bisa berimbas ke tubuh manusia secara nyata.
Semakin memasuki puncak siklus aktivitas Matahari pada 2024 mendatang, perhatian terhadap potensi dampak badai Matahari pada kesehatan publik menjadi semakin penting. Masyarakat dianjurkan untuk terus mengikuti perkembangan penelitian dan menjaga kesehatan jantung dengan baik.
Reporter: dem/dem
Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan kumpulan sumber dan data ilmiah terkait fenomena badai Matahari dan kesehatan jantung.









