Perjalanan Hidup dan Kepemimpinan Prabowo Subianto di Usia 74 Tahun

Permalink 7 months ago 66

Foto: news.detik.com

Jakarta – Memperingati ulang tahun ke-74 Prabowo Subianto, kita diajak menyelami kisah hidup yang penuh lika-liku yang membentuk sosoknya sebagai seorang pemimpin dan patriot bangsa.

Prabowo lahir pada 17 Oktober 1951 di Jakarta, berasal dari keluarga terpandang dengan jejak sejarah penting di dalamnya. Ayahnya, Soemitro Djojohadikusumo, adalah seorang ekonom dan menteri di era Soekarno hingga Soeharto, sementara kakeknya, Margono Djojohadikusumo, merupakan pejuang kemerdekaan sekaligus pendiri Bank Nasional Indonesia. Dari sisi ibu, Dora Marie Sigar, Prabowo juga mewarisi garis keturunan bangsawan Minahasa.

Meski berstatus aristokrat, perjalanan hidup Prabowo tidak selalu mulus. Masa mudanya banyak dihabiskan di luar negeri, dan ia pernah menjadi sahabat dekat aktivis pro-demokrasi Soe Hok Gie. Pilihan melanjutkan pendidikan militer membawanya meniti karir cemerlang di TNI, hingga mencapai pangkat Letnan Jenderal dan posisi penting seperti Danjen Kopassus dan Panglima Kostrad pada akhir 1990-an.

Namun, kejatuhan rezim Soeharto pada 1998 membawa titik balik yang dramatis. Prabowo diberhentikan dengan hormat dari dinas militer dengan reputasi yang sempat memudar akibat situasi politik yang memanas. Ia kemudian merintis karir bisnis dan mulai membangun jaringan di dunia sipil dan politik.

Pada 2003, Prabowo kembali berkiprah di Partai Golkar sebagai Dewan Penasihat dan sempat ikut konvensi Capres 2004. Ketika peluang di Golkar semakin sempit, dia mendirikan Partai Gerindra pada 2008 yang tumbuh pesat dari waktu ke waktu, dengan suara signifikan di setiap Pemilu dari 2009 hingga 2024.

Meski tiga kali mengikuti Pilpres (2009, 2014, dan 2019) dan selalu gagal menjadi presiden atau wakil presiden, Prabowo tetap gigih. Keputusan besar diambil setelah Pilpres 2019, di mana ia memilih bergabung dalam kabinet Presiden Jokowi sebagai Menteri Pertahanan, langkah yang sekaligus menjadi simbol rekonsiliasi dan upaya menjaga persatuan bangsa.

“Rekonsiliasi itu awalnya banyak mendapatkan cibiran dan penolakan. Namun, pilihan tetap diambil oleh Prabowo dengan segala konsekuensi yang akan diterimanya,” jelas Sugiat Santoso, Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI dan penulis buku Prabowo Sang Pemersatu Bangsa.

Dalam masa pemerintahannya, Prabowo terus menunjukkan sikap merangkul seluruh elemen bangsa, termasuk rival-rival politiknya, bahkan memberikan amnesti kepada sejumlah tokoh dan melibatkan keluarga mereka dalam kabinet. Hal ini menegaskan komitmen Prabowo sebagai pemersatu bangsa di tengah keberagaman dan tantangan politik Indonesia.

Menjadi presiden pada 2024 bersama Gibran Rakabuming Raka sebagai wakilnya, Prabowo memasuki babak baru dalam perjalanan hidupnya. Kepemimpinannya yang inklusif dan visioner dipercaya mampu menghapus luka politik masa lalu serta memperkuat persatuan nasional.

Di usia 74 tahun, kisah hidup Prabowo Subianto mengajarkan bahwa dedikasi, konsistensi, dan sikap terbuka terhadap rekonsiliasi adalah kunci dalam meraih tujuan besar dan mewujudkan cita-cita bangsa.