Netanyahu Kecam PM Belgia Sebut Lemah Karena Rencana Akui Negara Palestina

Permalink 9 months ago 82

Foto: news.detik.com

Tel Aviv – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melontarkan kritik keras terhadap Perdana Menteri Belgia, Bart de Wever, terkait rencana Belgia mengakui negara Palestina dalam sidang Majelis Umum PBB bulan ini. Netanyahu menyebut De Wever sebagai "pemimpin lemah" yang menyerah pada tekanan kelompok teror.

Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan, "Perdana Menteri Belgia de Wever adalah seorang pemimpin lemah yang berusaha memenuhi tuntutan terorisme Islam dengan mengorbankan Israel. Dia ingin memberi makan buaya teroris sebelum mereka melahap Belgia." Pernyataan ini disampaikan setelah Belgia mengumumkan niatnya untuk memberikan pengakuan resmi kepada Palestina.

Keputusan Belgia menyusul langkah serupa yang diambil oleh beberapa negara Barat lain, seperti Prancis, Inggris, Kanada, dan Australia. Menteri Luar Negeri Belgia, Maxime Prevot, menjelaskan keputusan ini diambil dengan alasan kemanusiaan menyusul tragedi di Jalur Gaza dan pelanggaran hukum internasional yang dilakukan oleh Israel.

Prevot mengatakan, "Palestina akan diakui oleh Belgia di sidang PBB! Dan sanksi tegas sedang dijatuhkan terhadap pemerintah Israel." Ia menambahkan bahwa tujuan dari langkah ini bukan untuk menghukum rakyat Israel, tetapi agar pemerintahnya menghormati hukum dan berusaha meredakan konflik di lapangan.

"Menghadapi kekerasan yang dilakukan Israel yang melanggar hukum internasional, mengingat kewajiban internasionalnya, termasuk kewajiban untuk mencegah risiko genosida, Belgia harus mengambil keputusan tegas untuk meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Israel dan Hamas," ujarnya.

Di sisi lain, respons dari dalam negeri Israel pun muncul. Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, dalam menanggapi perkembangan ini, menyerukan aneksasi sebagian besar wilayah Tepi Barat sebagai langkah balasan atas pengakuan yang semakin luas terhadap Palestina.

Dengan meningkatnya dukungan pengakuan negara Palestina dari negara-negara Barat, ketegangan politik di kawasan Timur Tengah diprediksi akan terus meningkat, menimbulkan tantangan besar bagi proses perdamaian dan stabilitas regional.

(nvc/idh)