Jakarta – Setiap tanggal 2 Oktober, dunia memperingati Hari Antikekerasan Internasional sebagai penghormatan kepada Mahatma Gandhi, sosok legendaris yang tidak hanya memimpin India meraih kemerdekaan, tetapi juga memperjuangkan prinsip tanpa kekerasan sebagai jalan perubahan sosial.
Hari istimewa ini ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak 2007 melalui resolusi Majelis Umum A/RES/61/271 dan bertujuan menyebarkan nilai-nilai dan pesan damai tanpa kekerasan melalui pendidikan dan kesadaran masyarakat.
Sejarah dan Makna Hari Antikekerasan Internasional
Gandhi dikenal sebagai pelopor perjuangan tanpa kekerasan atau non-violence yang menolak segala bentuk kekerasan fisik sebagai alat untuk mencapai tujuan politik maupun sosial. Filosofi ini tidak hanya menjadi teknik politik, melainkan cerminan etika yang mendorong terciptanya perdamaian, toleransi, dan saling pengertian.
Semangat inilah yang kini diadopsi oleh berbagai komunitas di seluruh dunia saat menghadapi tantangan ketimpangan dan konflik. Prinsip tanpa kekerasan menegaskan bahwa kekuatan sejati ada pada keberanian untuk melawan ketidakadilan tanpa membalas dengan kebencian maupun kekejaman.
Pesan Damai dari Sekretaris Jenderal PBB Tahun 2025
Mengawali peringatan Hari Antikekerasan Internasional 2025, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengingatkan pentingnya meneladani nilai yang dipegang teguh Gandhi:
“Pada Hari Tanpa Kekerasan Internasional ini, kita menghormati kehidupan dan warisan Mahatma Gandhi, dan komitmennya yang teguh terhadap perdamaian, kebenaran, dan martabat bagi semua.”
“Gandhi tidak hanya berbicara tentang cita-cita ini - ia juga mengamalkannya. Dan di masa meningkatnya ketegangan dan perpecahan yang semakin dalam ini, pesannya membawa urgensi baru.”
“Kita sedang menyaksikan erosi kemanusiaan kita bersama yang meresahkan. Kekerasan menggeser dialog. Warga sipil menanggung beban konflik. Hukum internasional dilanggar. Hak asasi manusia diinjak-injak. Dan fondasi perdamaian sedang terancam.”
“Gandhi memahami bahwa non-kekerasan bukanlah senjata kaum lemah, melainkan kekuatan kaum pemberani. Non-kekerasan adalah kekuatan untuk melawan ketidakadilan tanpa kebencian; melawan penindasan tanpa kekejaman; dan membangun perdamaian melalui martabat, bukan dominasi.”
“Di masa-masa yang berbahaya dan terpecah belah ini, marilah kita temukan kekuatan untuk mengikuti jejaknya, mengakhiri penderitaan, memajukan diplomasi, menyembuhkan perpecahan, dan menciptakan dunia yang adil, berkelanjutan, dan damai bagi semua.”
Momentum peringatan ini mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak hanya mengenang perjuangan Gandhi, tetapi juga menerapkan prinsip antikekerasan dalam kehidupan sehari-hari guna mewujudkan dunia yang lebih damai.
(kny/imk)









