Pidie, Aceh – Situs makam permaisuri Sultan Iskandar Muda, Putroe Sani (1607–1636 M), yang berada di Gampong Runtoh, Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie, kini dalam kondisi memprihatinkan. Padahal makam ini telah resmi ditetapkan sebagai situs cagar budaya, namun perawatannya sangat minim dan terkesan terlantar.
Pemerhati sejarah dan budaya Aceh, Tarmizi A Hamid yang lebih dikenal sebagai Cek Midi, mengungkapkan keprihatinannya setelah melakukan observasi langsung bersama sejumlah ahli sejarah dan arkeologi setempat.
"Makam permaisuri Sultan Iskandar Muda itu tak terurus, bahkan beberapa bagian batu makam sudah retak dan disambung pakai semen. Kepala dan kaki batu nisannya juga sudah hilang," kata Cek Midi di Banda Aceh.
Pagar makam yang seharusnya melindungi situs bersejarah ini mulai roboh. Tak ada papan informasi lengkap yang menceritakan sejarah dan peranan sang permaisuri, hanya sebatas pamflet sederhana yang menyebutkan makam ini sebagai benda cagar budaya.
"Sekarang semua mengaku cucu Sultan Iskandar Muda, tetapi nyata-nyata makam permaisurinya tidak diperhatikan," tambahnya penuh harap agar pemerintah lebih peduli pada situs penting ini.
Senada dengan itu, Prof Husaini Ibrahim, arkeolog dari Universitas Syiah Kuala (USK), juga menyatakan keprihatinannya terhadap kurang seriusnya pengelolaan makam tersebut. Permaisuri Putroe Sani sendiri adalah putri dari Teungku Syik di Reubee, seorang ulama besar sekaligus bangsawan Aceh, yang membuat makam ini memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi.
"Makam ini milik permaisuri Sultan Iskandar Muda, seorang raja besar Aceh, maka sangat tidak pantas jika sampai dibiarkan sehingga rusak dan terlantar seperti sekarang," ujarnya.
Kunjungan tim pemerhati sejarah itu diharapkan bisa menjadi pengingat bagi pemerintah dan masyarakat untuk menjaga dan merawat warisan sejarah Aceh yang sangat berharga ini, supaya tidak hilang dimakan waktu dan terlupakan.









