Pilot Mabuk Alkohol, Tiga Penerbangan Japan Airlines Alami Penundaan Hingga 18 Jam

Permalink 9 months ago 84

Foto: www.liputan6.com

Jakarta, Naralapor – Japan Airlines kembali menghadapi masalah serius terkait perilaku pilotnya yang kedapatan mabuk alkohol. Insiden terbaru ini menyebabkan tiga penerbangan tertunda, dengan dua di antaranya mengalami delay hingga 18 jam.

Insiden berawal saat seorang kapten pesawat yang dijadwalkan terbang dari Honolulu, Hawai, menuju Bandara Internasional Chubu Centrair, Jepang tengah, mengaku sakit pada hari penerbangan, Kamis, 28 Agustus 2025. Namun, terungkap bahwa pilot tersebut ternyata mengonsumsi alkohol sehari sebelumnya di hotel. Japan Airlines kemudian segera menyiapkan pilot pengganti, tetapi penundaan tetap terjadi dan memengaruhi sekitar 630 penumpang untuk penerbangan tersebut serta dua penerbangan lain menuju Bandara Haneda, Tokyo.

Pihak maskapai secara resmi meminta maaf pada Rabu, 3 September 2025, dan menegaskan komitmennya untuk menanggulangi masalah ini. "Kami akan menerapkan langkah-langkah tersebut secara menyeluruh," demikian pernyataan resmi dari JAL.

Sejarah Insiden Serupa

Masalah konsumsi alkohol oleh awak kabin dan pilot bukan hal baru bagi Japan Airlines. Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang (MLIT) sudah mulai menyelidiki insiden ini sejak 3 September 2025. Insiden ini mengikuti kasus yang memaksa JAL untuk melakukan perbaikan bisnis pada Desember 2024 akibat masalah konsumsi alkohol.

Pada April 2024, seorang pilot JAL berurusan dengan polisi di Amerika Serikat setelah melakukan perilaku mengganggu saat mabuk di hotel. Kemudian pada Desember 2024, dua pilot gagal lulus tes alkohol pra-penerbangan di Melbourne sehingga penerbangan mereka tertunda. Menyikapi masalah ini, JAL telah mengajukan sejumlah langkah pencegahan, termasuk pemantauan karyawan dengan riwayat konsumsi alkohol berlebihan.

Kasus Pilot Ditangkap di Amerika Serikat

Berbeda dengan skandal JAL, di Amerika Serikat seorang kopilot Delta Airlines ditangkap saat pesawat mendarat di San Francisco pada 26 Juli 2025. Sekitar 10 polisi memasuki kokpit tak lama setelah mendarat dan menahan kopilot tersebut yang kemudian diidentifikasi sebagai Rustom Bhagwagar (34). Kasus ini mengundang kebingungan dan trauma bagi penumpang karena penangkapan berlangsung langsung di dalam pesawat.

Selain itu, Bhagwagar menghadapi tuduhan serius terkait kasus kriminal di lokasi berbeda, yang kini masih dalam proses penyelidikan dan pengadilan.

Insiden-insiden ini menyoroti pentingnya menerapkan aturan ketat dan pengawasan ketat terhadap pilot dan awak kabin dalam menjaga keselamatan penerbangan dan kepercayaan penumpang.