Kenali 2 Tanda Kamu Terlalu Berkorban dalam Hubungan, Saatnya Stop Overgiving!

Permalink 8 months ago 78

Foto: www.beautynesia.id

Memberi terlalu banyak dalam hubungan disebut sebagai overgiving, yang mencakup lebih dari sekadar waktu dan tenaga, tapi juga emosi dan kesempatan kedua.

Apakah kamu pernah merasa kamu selalu memberi lebih dalam hubungan dibanding yang kamu terima? Jika iya, bisa jadi kamu termasuk overgiver, orang yang terlalu berkorban sampai melewati batas sehat. Overgiving bukan hanya soal waktu atau perhatian, tapi juga melibatkan emosi, kesabaran, dan kesempatan yang kamu berikan tanpa imbalan yang seimbang.

Sebuah studi tahun 2014 pada 795 pasangan menikah menunjukkan bahwa usaha dari kedua pihak sangat berpengaruh pada kualitas hubungan dan risiko perceraian. Ini berarti memberi dalam hubungan tidak bisa hanya dilakukan satu pihak saja—harus ada keseimbangan agar hubungan bertahan.

1. Merasa Kesal atau Penuh Dendam dalam Hubungan

Perasaan kesal dalam hubungan akibat overgiving Self-reflection sangat membantu membedakan pengorbanan karena cinta atau takut ditinggalkan.

Penelitian pada tahun 2022 menemukan bahwa banyak orang rela berkorban demi pasangan walau tanpa imbalan. Contohnya, mereka siap menahan sakit demi orang yang dicintai. Sayangnya, jika pengorbanan hanya satu arah dan tidak dihargai, bisa timbul rasa kesal, kelelahan, bahkan kebencian.

Jika kamu mulai merasa lelah secara emosional tapi terus memaksakan diri memberi, coba tanyakan pada dirimu sendiri:

  • Apakah aku memberi karena tulus atau berharap mendapatkan cinta balik?
  • Apakah setelah memberi aku merasa bahagia atau justru kosong?

Ini penting supaya kamu bisa tahu apakah yang kamu berikan didasarkan dari cinta atau karena takut kehilangan.

2. Sering Merasa Harus Membuktikan Diri

Membuktikan diri berlebihan dalam hubungan Ketakutan tidak cukup baik jadi penyebab overcompensating dalam hubungan.

Penelitian terbaru tahun 2025 dengan lebih dari 1.000 anak muda mengungkap ketakutan terbesar dalam hubungan adalah takut tidak cukup baik bagi pasangan. Bagi overgiver, ketakutan ini mendorong perilaku overcompensating, yaitu memberi berlebihan untuk membuktikan bahwa mereka layak dicintai.

Misalnya, saat pasangan mulai menjauh, alih-alih berbicara jujur, overgiver malah memberi lebih banyak untuk menarik perhatian. Padahal, langkah ini bisa memperburuk situasi.

Renungkan pertanyaan berikut jika kamu mengalami hal ini:

  • Apakah aku melakukan ini karena cinta atau takut kehilangan?
  • Apakah aku akan tetap melakukannya jika merasa aman dalam hubungan?

Jika jawabannya tidak, mungkin sudah saatnya berhenti dan fokus membangun keseimbangan dalam hubungan.

Inti dari mengatasi overgiving adalah kesadaran diri. Dengan menyeimbangkan antara memberi dan menerima, kamu tidak hanya merawat kesehatan emosionalmu tapi juga menciptakan hubungan yang lebih sehat dan bahagia.