Bali, Naralapor – Indonesia kembali menunjukkan perannya sebagai pemimpin di kancah internasional dengan menjadi tuan rumah forum budaya global CHANDI 2025 yang diadakan di Bali sejak 2 September 2025. Forum ini diikuti oleh 40 negara yang berkumpul untuk membahas isu strategis terkait kebudayaan dunia.
Hari kedua pertemuan, yang berlangsung di Bali Beach Convention Center, dibuka oleh Menteri Kebudayaan Indonesia, Fadli Zon. Dalam sambutannya, Fadli Zon menegaskan bahwa budaya memiliki kekuatan besar sebagai perekat sosial dan alat adaptasi menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan kemajuan teknologi.
"Budaya menjadi sarana untuk mengubah perbedaan menjadi kohesi sosial, mekanisme adaptif dalam menghadapi ancaman iklim, kompas dalam menggunakan teknologi dengan bijak, sekaligus jembatan untuk memperluas inklusivitas," ujarnya di hadapan para delegasi.
Diskusi utama dalam forum ini difokuskan pada empat topik penting: dampak perubahan iklim terhadap warisan budaya, transformasi digital dan penggunaan kecerdasan buatan dalam kebudayaan, pengembangan industri kreatif dan peran generasi muda, serta perlindungan budaya di tengah konflik.
Salah satu isu yang paling mendapat perhatian adalah dampak perang terhadap pelestarian budaya. Menteri Kebudayaan Palestina, Imadeddin A.S. Hamdan Fawzyah, secara emosional menyampaikan kondisi Gaza yang dilanda konflik berkepanjangan, yang telah menghancurkan tidak hanya infrastruktur tetapi juga sejarah dan identitas budaya Palestina.
"Di Gaza, ratusan seniman kehilangan nyawa dan bangunan bersejarah mengalami kerusakan. Meskipun demikian, kami terus berusaha melestarikan budaya dan mengembangkan industri budaya yang mengangkat nilai kemanusiaan," ungkapnya.
Delegasi dari Tunisia dan Syria pun menyatakan dukungan terhadap perlindungan budaya dan perdamaian dunia sebagai bagian penting dari dialog budaya yang dibangun di CHANDI 2025.
Menutup konferensi, Menteri Fadli Zon merangkum lima komitmen bersama yang telah diputuskan, mencakup integrasi budaya dalam pembangunan berkelanjutan, penguatan diplomasi budaya, pemanfaatan teknologi digital secara bertanggung jawab, pemberdayaan generasi muda dan industri budaya sebagai pendorong pertumbuhan inklusif, serta perlindungan dan pelestarian warisan budaya dari ancaman perdagangan ilegal dan konflik.
Dengan semangat kolaborasi dan penghargaan terhadap keragaman budaya dunia, CHANDI 2025 menjadi wadah penting untuk memperkuat peran budaya dalam menghadapi tantangan abad ke-21.









