dr Tan Shot Yen Kritik Keras Menu MBG: Harapannya Anak Bisa Nikmati Makanan Lokal Sehat

Permalink 8 months ago 81

Foto: www.beautynesia.id

dr Tan Shot Yen, ahli gizi klinis terkemuka di Indonesia, kembali menarik perhatian publik setelah mengkritik tajam menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam sebuah rapat bersama Komisi IX DPR RI, dr Tan mengungkapkan keprihatinannya terkait penyajian menu seperti burger dan spageti, yang dianggap tidak mencerminkan kekayaan makanan lokal Indonesia.

dr Tan berharap agar 80% menu MBG di seluruh wilayah Indonesia menggunakan bahan dan resep khas daerah masing-masing. "Saya pengin anak Papua bisa makan ikan kuah asam, saya pengin anak Sulawesi bisa makan kapurung," ungkapnya dalam video yang tersebar luas di media sosial beberapa waktu lalu.

Ia pun mempertanyakan mengapa banyak daerah justru memberikan burger padahal gandum sebagai bahan utama burger tidak tumbuh di Indonesia. "Dari Lhoknga hingga Papua, yang dibagi adalah burger, di mana tepung terigu tidak pernah tumbuh di bumi Indonesia," jelas dr Tan. Ia juga menyebutkan kehadiran menu spageti dan bakmi yang menurutnya tidak sesuai dengan tujuan MBG yang seharusnya mengutamakan pangan lokal.

Tidak hanya soal menu, dr Tan juga menyoroti kualitas isi daging burger, yang dianggapnya jauh dari standar. Dalam pengamatannya, beberapa tempat menyediakan isi berwarna pink dan bertekstur seperti karton, yang membuatnya ragu apakah itu daging olahan yang berkualitas.

"Itu rasanya kayak karton, warnanya pink dan buat lucu-lucuan nih. Lalu anak-anak disuruh, oke, do it your own, DIY. Susun, ada sayurnya. Astaga, kan bukan itu tujuan MBG," tuturnya.

Meski mengakui sebagian anak mungkin kurang familiar dan kurang menyukai makanan lokal, dr Tan menekankan bahwa permintaan anak-anak tersebut tidak harus dijadikan alasan untuk tetap menyajikan menu asing. Ia menilai adanya tekanan atau kendala pada dapur penyaji MBG bisa menyebabkan ketidaksesuaian menu tersebut.

Profil Singkat dr Tan Shot Yen

dr Tan Shot Yen lahir di Beijing, China pada 17 September 1964 dan memiliki latar belakang akademik yang kuat di bidang kedokteran dan gizi. Ia menempuh pendidikan dokter di Universitas Tarumanegara, melanjutkan profesi kedokteran di Universitas Indonesia, serta mengambil berbagai kursus tambahan di negara seperti Australia dan Thailand. Selain praktek klinis, dr Tan aktif memberikan edukasi gizi melalui media sosial dan berbagai kesempatan publik.

Kasus Keracunan MBG dan Dampaknya

Kritik dari dr Tan datang berbarengan dengan munculnya sejumlah kasus keracunan yang melibatkan program MBG. Salah satunya terjadi di Bandung Barat di mana lebih dari seribu siswa mengalami keracunan usai mengonsumsi MBG. Pemerintah setempat menetapkan hal ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).

Selain itu, di Kalimantan Barat, sebuah insiden keracunan terjadi setelah penyajian menu ikan hiu di SDN 12 Banua Kayong. Hal ini mendapat sorotan khusus karena ikan hiu dianggap bukan menu yang umum dan aman bagi anak-anak. Kepala Regional MBG Kalbar, Agus Kurniawi, mengakui kelalaian akibat pemilihan menu yang tidak sesuai, terutama terkait risiko kandungan merkuri pada ikan tersebut.

Agus menyebutkan bahwa pemilihan menu itu direkomendasikan oleh ahli gizi lokal, namun menyatakan kekecewaan karena tidak mempertimbangkan preferensi dan keamanan anak-anak secara matang.

Reaksi Publik terhadap Kritik dr Tan

Video dan pernyataan dr Tan Shot Yen mendapat respon positif dari masyarakat dan netizen yang mengapresiasi keberanian dan kepeduliannya dalam menyuarakan isu gizi anak dan kualitas program MBG. Banyak yang merasa bahwa kritik tersebut mencerminkan keresahan warga terhadap pemberian makanan bergizi yang memang harus diperbaiki agar sesuai dengan budaya dan kebutuhan lokal.

Sejak awal pelaksanaannya pada Januari 2025, program MBG memang mendapat berbagai sorotan terkait kualitas dan keamanan menu yang disediakan. Kritik dari pakar gizi seperti dr Tan Shot Yen menjadi penting untuk mendorong perbaikan yang lebih baik dan terarah.